Juru bicara KPK Febri Diansyah/MI/Rommy Pujianto
Juru bicara KPK Febri Diansyah/MI/Rommy Pujianto

KPK Bidik Korporasi di Kasus Bowo Sidik

Nasional OTT KPK
Juven Martua Sitompul • 14 Juni 2019 15:43
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak segan-segan menjerat PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK) sebagai tersangka korporasi di kasus yang menjerat anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso. Penyidik akan mencermati keterlibatan korporasi selama persidangan ‎terdakwa Manajer Marketing PT HTK Asty Winasti‎.
 
"Penyidik sudah mendalami peran sejumlah pihak di sana (korporasi PT Humpuss)," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Jumat, 14 Juni 2019.
 
Sidang perdana pembacaan dakwaan Asty diagendakan Rabu, 19 Juni 2019, di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Asty diduga ‎menyuap Bowo sekitar USD158 ribu dan Rp311 juta. Pemberian uang dilakukan secara bertahap, sejak Mei 2018 hingga 27 Maret 2019.
 
Febri mengamini adanya keterlibatan korporasi dalam skandal suap jasa pengangkutan antara PT HTK dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (PT Pilog). Suap diduga dilakukan karena adanya kepentingan dua korporasi tersebut.
 
"Nanti kita sama-sama simak di proses persidangan akan terlihat, apakah misalnya peran perkaranya tersebut cuma perorangan atau ada peran korporasi. Itu kan dua hal beda yang perlu kita cermati nanti di persidangan," katanya.
 
Lembaga Antirasuah juga mensinyalir Asty tidak 'main' sendiri. Asty diduga kuat menyuap Bowo atas perintah korporasi atau petingginya di PT HTK. "Kami duga ada kepentingan di balik suap ini, untuk mendorong proses perjanjian antara PT HTK dengan PT Pilog," ungkapnya.
 
Baca:Dokumen Perusahaan Bowo Sidik Disita
 
Asty bersama Bowo, dan pejabat PT Inersia, Indung, ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap kerjasama PT Pilog dengan PT HTK. Bowo dan Indung sebagai penerima, sedangkan Asty pemberi suap.
 
Bowo diduga meminta fee dari PT HTK atas kerjasama jasa pengangkutan pupuk sebanyakUSD2 per metric ton. Diduga telah terjadi enam kali menerima fee di sejumlah tempat, seperti rumah sakit, hotel, dan kantor PT HTK sejumlah Rp221 juta dan USD85.130.
 
Dari Bowo penyidik menyita uang sebesar Rp8 miliar dalam 82 kardus dan dua boks kontainer. Uang Rp8 miliar itu terdiri dari pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu yang sudah dimasukkan ke dalam amplop berwarna putih.
 
Bowo dan Indung selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sedangkan Asty selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 

(AGA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif