Foto udara gedung utama Kejaksaan Agung yang terbakar di Jakarta, Minggu, 23 Agustus 2020. Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Foto udara gedung utama Kejaksaan Agung yang terbakar di Jakarta, Minggu, 23 Agustus 2020. Foto: Antara/Aditya Pradana Putra

8 Tersangka Kebakaran Kejagung Diperiksa Besok

Nasional kebakaran gedung kejaksaan agung Kebakaran di Kejaksaan Agung
Siti Yona Hukmana • 26 Oktober 2020 10:44
Jakarta: Penyidik telah mengagendakan pemeriksaan delapan tersangka kebakaran Gedung Utama Kejaksaan Agung (Kejagung). Mereka dikorek keterangannya, Selasa, 27 Oktober 2020.
 
"Diperiksa pukul 10.00 WIB," kata Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri Brigadir Jenderal (Brigjen) Ferdy Sambo saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin, 26 Oktober 2020.
 
Menurut dia, pemeriksaan dilakukan penyidik gabungan dari Dittipidum Bareskrim Polri, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, dan Polres Metro Jakarta Selatan. Pemeriksaan tersangka digelar di Ruangan Subdirektorat (Subdit) 1 Dittipidum Bareskrim Polri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kedelapan tersangka itu, yakni Direktur Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kejagung, NH; Direktur PT ARM, R; mandor, UAN; serta lima tukang: T; H; S; K; dan IS. Keterangan mereka bakal dituangkan dalam berita acara pemeriksaan (BAP) untuk melengkapi berkas perkara yang akan dilimpahkan ke jaksa penuntut umum (JPU).
 
Baca: Kebakaran Gedung Kejagung Diminta Jadi Pembelajaran
 
Penyidik gabungan telah memeriksa 131 saksi. Sebanyak 64 orang merupakan saksi kunci. Mereka melihat, mendengar, dan mengetahui kebakaran di Kejagung, Sabtu, 22 Agustus 2020. Saksi itu meliputi petugas kebersihan, tukang, hingga pegawai Kejagung.
 
Penyidik juga memeriksa 10 saksi ahli untuk memperkuat analisis pendapat dari penyidik. Hasil penyidikan menyimpulkan titik api berasal dari Lantai 6, Ruang Biro Kepegawaian, Gedung Kejagung. Sumber api dari bara rokok tukang.
 
Sebanyak lima tukang yang bekerja sambil merokok di Lantai 6 menjadi tersangka. Status itu juga disematkan kepada UAN karena dianggap lalai mengawasi bawahannya.
 
Sementara itu, NH dinilai lalai dalam penyediaan minyak pembersih merek Top Cleaner. Dia tidak mengecek kandungan dari minyak yang digunakan petugas kebersihan Kejagung itu.
 
Minyak yang mengandung fraksi solar itu memicu api menjalar cepat ke seluruh Gedung Utama Kejagung. Kebakaran ini menimbulkan kerugian hingga Rp1,2 triliun.
 
R menjadi tersangka karena memberikan Top Cleaner yang tidak memiliki izin edar kepada Kejagung. Ahli kesehatan menyebut penggunaan bahan berbahaya dilarang di semua gedung.
 
Kedelapan tersangka dikenakan Pasal 188 KUHP juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. Mereka terancam hukuman hingga lima tahun penjara.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif