Lambang: KPK. Foto: MI/Rommy Pujianto.
Lambang: KPK. Foto: MI/Rommy Pujianto.

KPK Kejar Bukti Kasus Garuda Indonesia ke Luar Negeri

Nasional emirsyah satar tersangka
Juven Martua Sitompul • 30 Januari 2018 15:49
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai insentif mengusut kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce Plc pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Lembaga Antikorupsi bahkan mengejar bukti-bukti hingga ke Singapura dan Inggris melalui mutual legal assistance (MLA) dengan aparat penegak hukum di kedua negara tersebut.
 
"Kita masih proses di penyidikan. Untuk kasus Garuda ada dua proses paralel yang berjalan. Pertama proses lintas negara karena MLA sudah kita ajukan dan tinggal menunggu proses di negara masing-masing," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa, 30 Januari 2018.
 
Selain menunggu bukti-bukti, KPK juga terus menggali informasi atau bukti lain melalui pemeriksaan sejumlah saksi, termasuk tersangka dalam kasus tersebut. "Secara paralel saksi-saksi dan tersangka kita panggil beberapa minggu ini," ujar dia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pemeriksaan maraton dilakukan untuk memastikan keterlibatan mantan Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar dan pendiri PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedarjo dalam proses pengadaan pesawat dan mesin pesawat. Hubungan hukum, kontrak, perjanjian, maupun proses pengadaan di PT Garuda Indonesia ditelusuri.
 
"Tentu yang kita dalami atau jadikan fokus adalah kaitan antara proses pengadaan itu dan pihak-pihak di pengadaan itu terkait dengan dugaan fee yang diberikan kepada tersangka," ucap Febri.
 
Dalam kasus ini, KPK menyangka Emirsyah Satar menerima uang sebesar USD2 juta dan hadiah barang senilai USD2 juta dari Rolls-Royce melalui Soetikno Soedarjo. Saat suap dilakukan, Soetikno adalah beneficial owner Connaught International Pte Ltd. Suap itu disebut terjadi selama Emirsyah menjabat sebagai dirut PT Garuda Indonesia pada 2005 hingga 2014.
 
Baca: Dirut Garuda Maintenance Dikorek soal Perjanjian Pengadaan
 
MLA dengan lembaga antikorupsi Inggris atau Serious Fraud Office (SFO) dilakukan lantaran lembaga tersebut telah memiliki cukup bukti suap Rolls-Royce terhadap pejabat di Indonesia untuk pengadaan mesin pesawat untuk Garuda Indonesia. Sementara itu, MLA dengan Corrupt Practice Investigation Bureau (CPIB) Singapura dilakukan karena perusahaan milik Soetikno itu beroperasi di sana.
 
Febri berharap MLA dengan kedua lembaga penegak hukum ini dapat memperkuat bukti-bukti yang dimiliki KPK. "Prinsip dasarnya kan kita harus kumpulkan bukti sekuat-kuatnya, itu yang kita kerjakan sekarang. Nah, bukti-bukti ini bisa berasal dari dalam dan luar negeri," kata Febri.
 
Emirsyah sebagai penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b dan atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1991 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) KUHP juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.
 
Soetikno selaku pemberi suap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1991 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif