Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Pasal Penghinaan Presiden, Wamenkumham: Bukan Melarang Kritik

Anggi Tondi Martaon • 29 Juni 2022 01:04
Jakarta: Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Wamenkumham) Edward Omar Sharif Hiariej (Edi) menegaskan kembali pasal penghinaan presiden dalam revisi Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) bukan bentuk antikritik terhadap pemerintah. Pihak yang menganggap hal itu bentuk antikritik pemerintah adalah sesat pikir. 
 
"Itu orang yang sesat berpikir, dia tidak bisa bedakan antara kritik dan penghinaan," kata Edi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 28 Juni 2022.
 
Dia menegaskan yang dilarang itu adalah penghinaan terhadap presiden. Sedangkan, kritik terhadap pemerintah maupun kepala negara diperkenankan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Yang dilarang itu penghinaan lho, bukan kritik. Dibaca enggak bahwa kalau itu mengkritik enggak boleh dipidana. Kan ada di pasalnya. Jadi apa lagi?" ungkap dia.
 
Selain itu, Edi mengomentari pendapat sejumlah pihak yang menyebut kalau pasal penghinaan presiden dimasukkan ke Kitab Undang-undang Hukum Acara Perdata (KUHAP). Menurut dia, hal itu berlaku di negara lain.
 
Edi menjelaskan Indonesia tidak bisa merujuk negara lain dalam pengaturan penghinaan presiden. Sebab, penghinaan di Indonesia dengan negara lain sangat berbeda.
 

Baca: Ogah Temui Demonstran di Depan DPR, Ini Alasan Wamenkumham


Dia menjelaskan unsur penghinaan dalam teori pidana Indonesia masuk kategori malum in se. Yakni, suatu perbuatan dianggap suatu kejahatan bukan karena diatur demikian atau dilarang oleh undang-undang. Melainkan, bertentangan dengan kewajaran, moral, dan prinsip umum masyarakat beradab.
 
Sedangkan, negara lain memasukkan penghinaan dalam kategori mala prohibita. Artinya, suatu perbuatan yang tergolong kejahatan karena diatur oleh undang-undang.
 
Selain itu, dia meyakini Mahkamah Konstitusi (MK) bakal menolak gugatan pasal penghinaan presiden. Hal itu berdasarkan putusan MK pada 2006.
 
Dia menjelaskan waktu itu ada empat pasal yang diuji, yaitu Pasal 134, 135, 136, dan 207. Ada tiga gugatan yang dikabulkan, sedangkan Pasal 207 hanya diminta diperintahkan untuk mengubah delik dari umum ke aduan.
 
"Itu sebabnya bunyi pasal 351, 353, 354 revisi UU KUHP delik aduan. Berdasarkan putusan MK," kata dia.
 
Dia pun mempersilakan pihak-pihak yang kontra dengan pasal penghinaan presiden menempuh judicial review. Dia meyakini tidak ada yang berani menggugat ke MK. 
 
"Mereka enggak berani karena pasti ditolak," ujar dia.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif