Patrialis Sebut Hakim Tipikor Khilaf

Damar Iradat 25 Oktober 2018 13:32 WIB
patrialis akbar ditangkap kpk
Patrialis Sebut Hakim Tipikor Khilaf
Patrialis Akbar. Foto: Antara/Wahyu Putro
Jakarta: Mantan hakim konstitusi Patrialis Akbar menjalani sidang perdana permohonan pengajuan peninjauan kembali (PK) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Dalam sidang, Patrialis mengajukan sejumlah bukti baru atau novum dalam berkas PK yang diajukan ke Mahkamah Agung (MA).
 
Patrialis mengatakan pengajuan PK tersebut lantaran dirinya mengaku keberatan terhadap putusan hakim di pengadilan tingkat pertama. Saat itu, dirinya divonis delapan tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor.
 
"Dasar hukum pengajuan PK, pemohon PK menyatakan keberatan terhadap putusan 4 September 2017. Karenanya kami mengajukan permohonan ini," ucap Patrialis di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 25 Oktober 2018.
 
Ia menjelaskan ada sejumlah alasan permohonan pengajuan PK. Mulai dari temuan novum, perten‎tangan putusan, hingga kekhilafan atau kekeliruan hakim pada putusan.
 
Keadaan baru salah satunya yakni bantahan soal penerimaan Rp4.043.000 oleh Patrialis yang disebut untuk bermain golf bersama rekan-rekannya. Uang itu sebelumnya diduga diberikan oleh pengusaha daging, Basuki Hariman.
 
"Saya juga tidak pernah memengaruhi putusan hakim MK," jelasnya.

Baca: Patrialis Akbar Didakwa Terima Suap

Patrialis divonis delapan tahun penjara dan denda Rp300 juta subsider tiga bulan kurungan. Patrialis terbukti bersalah dalam kasus perkara suap terkait permohonan uji materi Undang-undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.
 
Ia juga dijatuhi hukuman tambahan berupa uang pengganti USD10.000 dan Rp4.043.000. Jumlah itu sama dengan uang yang diterima Patrialis.
 
Dalam perkara ini, Patrialis terbukti telah menerima suap dari Basuki Hariman dan stafnya, Ng Fenny melalui Kamaludin. Uang suap itu untuk memuluskan permohonan uji materi UU Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.






(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id