Tersangka kasus penyeberan cerita hoaks Ratna Sarumpaet (tengah) bersiap untuk menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jakarta. Foto: MI/Pius Erlangga.
Tersangka kasus penyeberan cerita hoaks Ratna Sarumpaet (tengah) bersiap untuk menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jakarta. Foto: MI/Pius Erlangga.

Pengadilan Diminta Pastikan Dugaan Konspirasi Kasus Ratna

Nasional Kabar Ratna Dianiaya
16 Februari 2019 19:18
Jakarta: Psikolog Politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, meminta pengadilan membuka tirai di balik kasus hoaks penganiayaan seniman Ratna Sarumpaet. Meja hijau diharap bisa memastikan apakah ada konspirasi atau tidak di dalam kasus itu.
 
“Misalnya untuk mendiskreditkan pemerintah, itu harus dibongkar di pengadilan. Jangan hanya sekarang Ratna doang dijadikan pesakitan, yang lain cuci tangan,” kata Hamdi, Sabtu, 16 Februari 2019.
 
Menurut dia, bila saat awal terjadi tak ditangani cepat, kasus ini akan meluas menjadi kepercayaan publik bahwa situasi sudah genting. Pemerintahan Joko Widodo bisa dianggap represif karena Ratna yang juga seorang aktivis dianiaya orang tak dikenal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menyebut kasus ini bahkan membuat calon presiden Prabowo Subianto, yang bersaing melawan Jokowi di Pilpres 2019, ikut bersuara. Alhasil, pekara ini terbawa ke panggung politik pemilihan presiden.
 
“Dulu waktu konferensi pers, Prabowo itu kan yang ditekankan kebebasan berbicara, mengkritik itu terancam di republik ini, hak asasi orang terancam. Ada seorang aktivis yang sudah dipukuli. Nah, itu kan yang mau digiring,” ujar dia.
 
Hamdi pun menyayangkan Prabowo begitu mudah percaya kabar-kabar bohong yang ditiup Ratna. Dia bingung mengapa Prabowo tak memastikan lebih dahulu fakta-fakta yang ada.
 
Penegak hukum diminta memastikan apakah ada motif lain dalam kasus Ratna. Pengadilan perlu mendalami bualan ini apakah karena persoalan pribadi Ratna atau hal lain.
 
Baca: PKB: Jangan Menari di Atas Penderitaan Ratna
 
"Entah dia mengalami gangguan psikologis apa sehingga membual saja mengarang-mengarang cerita dia dipukuli,” jelas Hamdi.
 
Dalam psikologi, kata Hamdi,memang ada yang disebut penyakit hypocondriac. Penderitanya biasanya senang mengarang-ngarang cerita sedang sakit, disakiti, maupun sakit sedikit dibesar-besarkan seperti dizalim.
 
“Itu ada kelainan psikologis juga, orang membesar-besarkan rasa sakit itu hypocondriac,” jelas dia.
 

 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif