mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi. Foto: MI/Rommy Pujianto
mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi. Foto: MI/Rommy Pujianto

MAKI Tawarkan Hadiah buat Pelapor Keberadaan Nurhadi

Nasional Suap di MA
Candra Yuri Nuralam • 17 Februari 2020 07:46
Jakarta: Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) menggelar sayembara pencarian mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi. Tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi penanganan perkara di Mahkamah Agung itu masuk daftar pencarian orang (DPO).
 
"MAKI akan memberikan hadiah ponsel iPhone 11 bagi siapa pun yang mampu memberi tahu keberadaan Nurhadi," kata Koordinator MAKI, Boyamin Saiman saat dikonfirmasi Medcom.id, Senin, 17 Februari 2020.
 
Boyamin menuturkan informasi keberadaan Nurhadi penting. Nurhadi mangkir tiga kali panggilan penyidik Lembaga Antirasuah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Informasi itu bisa digunakan untuk menangkap Nurhadi oleh KPK," ujar Boyamin.
 
Boyamin menuturkan sayembara ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya, MAKI menawarkan Rp10 juta bagi masyarakat yang bisa menemukan Setya Novanto saat kabur dari penyidikan kasus KTP-el yang menjeratnya, 16 November 2017.
 
Kuasa hukum Nurhadi, Maqdir Ismail, mengaku heran dengan sayembara itu. Maqdir menilai MAKI memanfaatkan situasi untuk mencari pamor.
 
"Kenapa kok Nurhadi dia buru?," ujar Maqdir.
 
MAKI Tawarkan Hadiah buat Pelapor Keberadaan Nurhadi
Koordinator MAKI, Boyamin Saiman. Foto: Medcom.id/Cindy
 
KPK menaikkan status pemanggilan tiga tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi penanganan perkara di Mahkamah Agung Tahun 2011-2016. Mereka masuk DPO.
 
Ketiganya, Nurhadi; menantu Nurhadi, Rezky Herbiono; dan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) Hiendra Soenjoto. Lembaga Antirasuah telah meminta bantuan polisi mencari tiga orang itu.
 
Hiendra sejatinya meminta pemanggilan ulang saat mangkir dipanggilan kedua. Namun, dia mangkir pada penjadwalan ulang. KPK memutuskan memasukkan nama Hiendra sebagai DPO.
 
Nurhadi diduga menerima suap Rp33,1 miliar dari Hiendra Soenjoto lewat Rezky. Suap dimaksudkan untuk memenangkan Hiendra dalam perkara perdata kepemilikan saham PT MIT. Nurhadi juga diduga menerima sembilan lembar cek dari Hiendra terkait Peninjauan Kembali (PK) perkara di MA.
 
Nurhadi juga diduga mengantongi Rp12,9 miliar dalam kurun waktu Oktober 2014 sampai Agustus 2016. Gratifikasi diduga terkait pengurusan perkara sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK di MA, juga Permohonan Perwalian.
 
Nurhadi dan Rezky disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 5 ayat (2) lebih subsider Pasal 11 dan/atau Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sementara Hiendra disangka melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b subsider Pasal 13 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 


 

(REN)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif