Ketua Pansel KPK Yenti Ganarsih. Medcom.id/M Sholahadhin Azhar.
Ketua Pansel KPK Yenti Ganarsih. Medcom.id/M Sholahadhin Azhar.

Pansel Bakal 'Menguliti' Rekam Jejak Capim dari Polri dan Kejaksaan

Nasional pansel kpk
M Sholahadhin Azhar • 25 Juni 2019 19:09
Jakarta: Panitia seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak akan lalai menyeleksi pendaftar dari Polri dan Kejaksaan Agung. Anggota pansel bakal memastikan para capim memiliki rekam jejak bersih.
 
Ketua Pansel Capim KPK Yenti Garnasih menyebut calon yang lolos merupakan kandidat yang memang pantas memimpin KPK.
 
"Kami jelas pesan ke jaksa dan polisi bahwa tolong yang dikirimkan itu paling tidak yang rekam jejaknya bagus," ujar Yenti saat ditemui Medcom.id di Universitas Trisakti, Jakarta, Selasa, 25 Juni 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pansel telah secara gamblang meminta agar kandidat dari dua institusi itu tak bermasalah. Termasuk, meminta Polri dan Kejaksaan Agung menguliti rekening kandidat.
 
Pansel bakal total bekerja. Pansel menjamin seleksi dilakukan secara profesional. "Tolong jangan sodorkan calon yang sempat (bermasalah) semacam itu," imbuhnya.
 
Baca: Pansel Ingin Uji Kelayakan Kepatutan di DPR Subtantif
 
Yenti menyebut Polri dan Kejaksaan belum menyodorkan nama kepada pansel. Ia mendengar dua institusi itu akan melakukan seleksi internal terlebih dulu. Pansel tak keberatan dengan seleksi internal itu. Hal itu dinilai sebagai hak institusi menjaring kandidat terbaik.
 
"Kita juga tidak dalam kewenangan (seleksi internal) itu. Kita menjaga hubungan baik tanpa menimbulkan friksi," kata Yenti.
 
Yenti juga mengkritisi aktivis maupun organisasi masyarakat yang banyak mengkomentari calon pimpinan KPK. Yenti tak masalah dikritik, asal pengkritik tak selalu merasa benar.
 
Ia menyayangkan komentar aktivis atau ormas menentukan kandidat terbaik. Terlebih, para aktivis menyebut tak ada calon kredibel dari Polri dan Kejaksaan.
 
"Kalau mau (menakar calon) bilang aja ke Kapolri. Mau enggak dibilang begitu, jangan ke pansel. aneh sekali, kok seperti memonopoli kebenaran," keluh Yenti.
 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif