Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Gatot Repli Handoko. (Medcom.id/Yona)
Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Gatot Repli Handoko. (Medcom.id/Yona)

Rekening Berisi Rp44,5 Miliar dan Apartemen Milik Bos Fahrenheit Disita

Nasional polri Penegakan Hukum Investasi Bodong Penipuan investasi Robot Trading Fahrenheit Robot Trading
Siti Yona Hukmana • 19 April 2022 09:06
Jakarta: Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri memblokir rekening dan menyita aset berupa apartemen milik tersangka kasus investasi bodong robot trading Fahrenheit, Henry Susanto. Penyitaan dalam rangka pengembalian kerugian para korban.
 
"Penyitaan terhadap 1 unit apartemen di Taman Anggrek (Jakarta Barat) seharga Rp2 miliar dan pemblokiran rekening terkait dengan nilai sekitar Rp44,5 miliar," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Gatot Repli Handoko saat dikonfirmasi, Selasa, 19 April 2022.
 
Bareskrim Polri terus mengembangkan perkara kasus robot trading tersebut. Sebanyak 20 saksi diperiksa polisi dalam kasus tersebut. Termasuk, memeriksa 27 saksi korban.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dengan total kerugian Rp124,49 miliar," kata Gatot.
 
Bareskrim Polri telah menerima laporan 550 korban Fahrenheit dengan total kerugian mencapai Rp480 miliar. Jumlah itu bisa bertambah seiring penambahan korban yang mengadu.
 
Dittipideksus Bareskrim Polri telah menetapkan lima tersangka dalam kasus investasi bodong Fahrenheit. Mereka, yakni otak investasi bodong Henry Susanto yang ditangkap pada Senin, 21 Maret 2022.
 
Baca: Total Kerugian 27 Korban Fahrenheit Capai Rp124 Miliar
 
Bos Fahrenheit itu disangkakan Pasal 62 Jo Pasal 8 ayat (1) huruf f Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan/atau Pasal 105 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dan/atau Pasal 106 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dan/atau Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 Jo Pasal 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan dan Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.
 
Sementara itu, empat anak buahnya ditangkap Polda Metro Jaya. Keempatnya ialah D, ILJ, DBC, dan MF.
 
Keempat tersangka dijerat Pasal 28 ayat (1) jo Pasal 45A ayat (1) dan atau Pasal 27 ayat (2) jo Pasal 45 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik, dan atau Pasal 105 dan atau Pasal 106 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang perdagangan dan atau Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang, jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dan atau Pasal 56 KUHP.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif