Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Peracik Jamu Campur Bahan Obat Kimia Ditangkap

Nasional polri obat berbahaya
Siti Yona Hukmana • 16 November 2020 14:41
Jakarta: Polisi membongkar home industri peracikan jamu atau obat tradisional tidak sesuai ketentuan di Klaten, Jawa Tengah. Seorang tersangka berinisial YS ditangkap dalam kasus ini.
 
"Tersangka YS merupakan analis farmasi," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin, 16 November 2020.
 
YS ditangkap di Klaten, Jawa Tengah, sekitar pukul 13.00 WIB pada 20 Oktober 2020. YS diduga telah melakukan tindak pidana bidang kesehatan dan perlindungan konsumen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kasubdit 1 Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri Kombes Pipit Rismanto mengatakan YS memiliki sebuah apotek. Di toko itu YS meramu jamu dengan beberapa bahan kimia obat (BKO).
 
"Jamu-jamu yang harus menggunakan tradisional, dicampurkannya bahan berbentuk tepung maizena, seharusnya diproduksi secara tradisional ini malah diberikan obat-obat kimia seperti Dexamethasone kemudian sildenafil citrate maupun paracetamol," ujar Pipit.
 
Pipit mengatakan modus operandi YS memproduksi jamu dengan dua bahan. Yakni, bahan kimia obat (BKO) dan bahan kimia non-obat atau non-BKO.
 
Baca: Jutaan Pil Obat Keras Ditemukan di Rumah Produksi di Bandung
 
Polisi menyita sejumlah barang bukri berupa BKO, bahan-bahan kimia berbentuk tepung maizena, mesin penggiling, 12 ribu saset jamu tradisional pegal linu cap madu manggis, dan jamu kuat lelaki. Total ada 37 item saset jamu, termasuk jamu berbentuk tablet.
 
"Peredaran yang dilakukan setelah jadi ini di lingkungan sekitar Klaten dan Solo, ada juga beberapa yang dikirim ke daerah-daerah lain," kata Pipit.
 
Tersangka YS telah ditahan di Rumah Tahanan Bareskrim Polri. Tersangka dikenakan Pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman pidana penjara maksimal 15 tahun.
 
Kemudian, Pasal 8 ayat 1 huruf a jo Pasal 62 ayat 1 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dengan ancaman pidana penjara maksimal lima tahun.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif