Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Foto: MI/Rommy Pujianto
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Foto: MI/Rommy Pujianto

KPK Tindaklanjuti Aliran Rp10 Juta ke Menag

Nasional OTT Romahurmuziy
Juven Martua Sitompul • 07 Mei 2019 21:28
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan bakal menindaklanjuti dugaan aliran suap ke Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Lembaga Antirasuah masih menunggu laporan utuh dan bukti yang cukup dari proses penyidikan.
 
Pada persidangan tanggapan atas gugatan praperadilan tersangka mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy, Biro Hukum KPK membeberkan bukti adanya praktik suap dalam seleksi jabatan di Kementerian Agama (Kemenag). Penyidik memiliki 30 barang bukti dan 7 keterangan saksi yang membuat terang kasus suap ini.
 
Dari bukti dan keterangan saksi yang didapat penyidik, pemberian uang sebesar Rp10 juta kepada Lukman terjadi pada 9 Maret 2019. Pemberian uang itu berlangsung setelah Lukman resmi melantik Haris Hasanuddin sebagai Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Nanti tunggu laporan dulu baru bisa saya jawab, hari ini belum masuk," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa, 7 Mei 2019.
 
Basaria memastikan, semua bukti dan keterangan saksi itu bakal dikonfirmasi langsung kepada Lukman. Penyidik telah mengagendakan pemeriksaan Lukman Rabu besok, 8 Mei 2019.
 
"Pokoknya apapun yang ada di dalam sidang itu pasti penyidik akan mengejar. Itu aja intinya," pungkasnya.
 
Dalam sidang praperadilan Romi siang tadi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Tim Biro Hukum KPK mengungkapkan dugaan peran Menag dalam suap jual beli jabatan. Di antaranya, Lukman diduga ikut meloloskan Kepala pada Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur (Jatim) Haris Hasanudin.
 
Baca:Menag Diduga Kuat 'Bermain' dengan Romahurmuziy
 
Haris Hasanudin juga mendapat bantuan dari Ketua DPW PPP Jatim Musyafak Noer untuk menemui Menag. Usai pertemuan itu, Lukman dan Romy mengatakan akan membantu Haris dalam proses seleksi tersebut.
 
Pada Kamis, 3 Januari 2019, Haris Hasanudin dinyatakan lulus dalam seleksi administrasi sebagai Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur. Padahal, Haris sejatinya tak lolos seleksi karena indisipliner.
 
Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) yang melihat keganjilan penerimaan Haris Hasanudin langsung merekomendasikan Lukman agar membatalkan kelulusan Haris. Namun, Lukman tidak menggubris perintah KASN dan tetap membiarkan Haris diterima. Lukman juga tetap melantik Haris sebagai kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jatim usai kejadian itu.
 
Hal ini dibuktikan oleh KPK berdasarkan pesan singkat yang dikirimkan oleh Haris kepada Romy pada Minggu, 5 Maret 2019. Di situ, Haris menyampaikan kabar gembira atas pelantikan dirinya kepada Romy.
 
Pada Rabu, 6 Februari 2019, Haris menemui Romahurmuziy di rumah pribadinya di Jalan Batu Ampar, Condet, Jakarta Timur. Saat itu, Haris menyerahkan secara langsung uang Rp250 juta yang disimpan dalam tas jinjing hitam kepada Romy sebagai tanda terima kasih.
 
Haris juga memberikan uang sebesar Rp10 juta kepada Lukman pada Sabtu, 9 Maret 2019, saat kunjungan ke Pesantren Tebuireng Jombang, Jatim. Uang itu sebagai kompensasi atas terpilihnya Haris Hasanudin terpilih sebagai kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jatim.
 
Baca:Poin Gugatan Praperadilan Romahurmuziy Keliru
 
Dalam perkara ini KPK menetapkan Romi sebagai tersangka kasus dugaan suap jual beli jabatan di Kemenag. Romi disinyalir mengatur jabatan di Kemenag pusat dan daerah.
 
Romi diduga menerima suap dari Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi dan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur Haris Hasanuddin. Suap diberikan agar Romi mengatur proses seleksi jabatan untuk kedua penyuap tersebut.
 

(DMR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif