Indriyanto Seno Adji (depan). Foto: Akbar Nugroho Gumay/Antara
Indriyanto Seno Adji (depan). Foto: Akbar Nugroho Gumay/Antara

Tim Advokasi Novel Diminta Tak Sembarang Menuduh

Nasional novel baswedan
Antara • 09 Juli 2020 03:13
Jakarta: Tim advokasi penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan diminta untuk tidak sembarang menuduh mantan Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya, Irjen Rudy Heriyanto, atas penghilangan barang bukti. semua pihak harus bersikap bijak dan menunggu proses persidangan kasus penyiraman air keras selesai.
 
"Penyebutan dan tuduhan secara tegas jelas terhadap nama dan perbuatan Irjen Rudy Heriyanto bahkan terviral melalui sarana online secara luas justru bersifat actual malice dan menimbulkan dugaan pencemaran nama baik yang dapat dituntut pidana berdasarkan UU ITE," kata anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus penyiraman air keras penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan bentukan Polri, Indriyanto Seno Adji, Rabu, 8 Juli 2020.
 
Ini disampaikan Indriyanto menanggapi adanya laporan tim advokasi Novel terhadap Rudy ke Divisi Propam Polri. Rudy, menurut Tim Advokasi, melanggar etik profesi karena diduga menghilangkan barang bukti di kasus penyiraman air keras.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam laporan itu, anggota tim advokasi Novel, Kurnia Ramadhana menyebut botol dan gelas yang digunakan pelaku tidak dijadikan barang bukti dalam proses penanganan perkara tersebut. Kurnia menduga ada fakta yang disembunyikan oleh kepolisian dalam perkembangan penanganan perkara itu.
 
"Saya meragukan objektivitas laporan tim advokasi ke Propam tersebut yang bahkan terkesan subjektif," kata Indriyanto.
 
Menurut Indriyanto, laporan tim advokasi Novel tidak wajar. Mengingat, proses perkara masih berlangsung di pengadilan.
 
"Ini yang di sisi lain mengenai objek yang sama masih dalam proses pemeriksaan di otoritas yudisial," katanya.
 
Baca: Kadiv Hukum Polri Dilaporkan ke Propam Terkait Kasus Novel
 
Indriyanto berpendapat laporan tim advokasi secara substansial tidaklah benar. Dia mencontohkan tudingan tim advokasi tentang botol kosong.
 
TGPF, kata Indriyanto, menemukan bahwa botol itu bukan barang bukti. Melainkan digunakan untuk menampung air yang ditemukan di lantai.
 
"Ada BAP tentang penjelasan pengambilan barang bukti oleh anggota Polres Jakut bahwa Botol itu dipakai untuk menampung sisa cairan air yang ditemukan di lokasi TKP yang diduga berkaitan dengan peristiwa penyiraman," katanya.
 
Indriyanto juga menyebut TGPF melakukan penelitian secara detail tentang sidik jari. Hasilnya tidak ada sidik jari di mug.
 
"Karena dipastikan pelaku menggunakan sarung tangan, dan lagi pula adalah sangat ceroboh sekali apabila pelaku bawa air asam sufat namun tidak menggunakan sarung tangan," kata Indriyanto.
 
Indriyanto menyarankan agar semua pihak bersikap bijak. Terpenting, menghormati proses yudisial yang masih berlangsung di pengadilan.
 
"Hindari laporan yang bersifat tuduhan actual malice, antara lain termasuk dalam hal ini adalah tuduhan kepada Irjen Rudy Heriyanto atas penghilangan barang bukti yang terkesan sengaja dilakukan untuk menutupi fakta sebenarnya," tegas dia.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif