Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. MI/Rommy Pujianto
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. MI/Rommy Pujianto

Kadiv Hukum Polri Dilaporkan ke Propam Terkait Kasus Novel

Nasional novel baswedan
Fachri Audhia Hafiez • 08 Juli 2020 08:56
Jakarta: Tim advokasi Novel Baswedan melaporkan Kepala Divisi Hukum Polri Irjen Rudy Heriyanto ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri. Rudy diduga menghilangkan barang bukti saat penyidikan kasus penyerangan terhadap Novel.
 
"Segala persoalan dalam proses penyidikan menjadi tanggung jawab dari yang bersangkutan. Termasuk dalam hal ini adalah dugaan penghilangan barang bukti yang terkesan sengaja dilakukan untuk menutupi fakta sebenarnya," kata anggota tim advokasi Novel, Kurnia Ramadhana, dalam keterangan pers, Rabu, 8 Juli 2020.
 
Rudy merupakan bagian tim penyidik kasus penyerangan Novel. Saat kasus bergulir, Rudy menjabat Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kurnia mengungkapkan bukti sidik jari pelaku di botol dan gelas untuk menyerang Novel hilang. Polda Metro Jaya menyampaikan tim penyidik tidak menemukan sidik jari pada 11 April 2017.
 
Menurut dia, pengakuan korban dan sejumlah saksi, gelas tersebut ditemukan polisi pada hari kejadian. Ia meyakini sidik jari tersebut masih menempel dalam gelas dan botol.
 
"Selain itu, botol dan gelas yang digunakan oleh pelaku pun tidak dijadikan barang bukti dalam proses penanganan perkara ini," ujar Kurnia.
 
(Baca: KY Pantau Putusan Kasus Novel)
 
Tim advokasi Novel juga menyoroti kamera pengintai atau CCTV di sekitar tempat penyerangan yang tidak dijadikan alat bukti. Polisi mengumpulkan 400 CCTV radius 500 meter dari lokasi penyerangan.
 
"Berdasarkan pengakuan korban dan saksi diketahui terdapat beberapa CCTV yang sebenarnya dapat menggambarkan rute pelarian pelaku akan tetapi tidak diambil oleh kepolisian," ujar Kurnia.
 
Selain itu, cell tower dumps (CTD) juga tak dimunculkan dalam penanganan perkara. CTD adalah sebuah teknik investigasi dari penegak hukum untuk melihat jalur perlintasan komunikasi di sekitar rumah korban.
 
Namun, rekaman CTD itu tidak pernah ditampilkan dalam proses penanganan perkara mulai dari penyidikan sampai persidangan. Kurnia menuturkan dalam kejahatan terorganisasi para pengintai dan pelaku berkomunikasi dengan jaringan seluler.
 
Tim advokasi juga menyoroti baju gamis yang dikenakan Novel disobek. Hasil forensik mengenai sobekan baju tidak pernah diungkap ke publik.
 
"Maka patut diduga Irjen Rudy Heriyanto melanggar ketentuan yang tertera dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia," ucap Kurnia.
 

(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif