Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

Komnas HAM: Pendeta Yeremia Tak Perlu Diautopsi

Nasional penembakan papua komnas ham
Siti Yona Hukmana • 03 November 2020 01:51
Jakarta: Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) menilai jenazah Pendeta Yeremia Zanambani tidak perlu diautopsi. Autopsi sedianya dibutuhkan untuk mengetahui penyebab kematian seseorang. 
 
"Kalau berbagai dokumen, bukti, sudah bisa menjawab terang benderang kasus, sebenarnya autopsi tidak perlu dilakukan," kata Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM Mohammad Choirul Anam dalam konferensi pers daring, Senin, 2 November 2020.
 
Yeremia korban penembakan di kandang babi pada Sabtu, 19 September 2020, di Distrik Hitadipa, Intan Jaya, Papua. Komnas HAM menginvestigasi dan merekonstruksi kasus penembakan tersebut. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Komnas HAM menemukan fakta terduga pelaku penembakan ialah Wakil Komandan Koramil Hitadipa, Alpius Hasim Madi. Prajurit TNI itu diketahui warga pergi ke kandang babi sebelum penembakan terjadi. 
 
Pada tubuh Yeremia ditemukan luka terbuka maupun luka akibat tindakan lain. Salah satunya, luka pada lengan kiri bagian dalam dengan diameter 5-7 cm dan panjang sekitar 10 cm. Luka itu berasal dari timah panas yang dilepaskan dalam jarak kurang dari satu meter dari senjata api. 
 
Namun, Komnas HAM berkeyakinan luka tersebut dimungkinkan akibat adanya kekerasan senjata tajam lainnya karena posisi ujung luka yang simetris. Selain itu, Komnas HAM menemukan tindakan lain berupa jejak intravital pada leher.
 
Baca: Pendeta Yeremia Diduga Mengalami Tindak Kekerasan Sebelum Ditembak
 
Luka pada leher bagian belakang itu berbentuk bulat. Kemudian, diduga ada pemaksaan korban agar berlutut untuk mempermudah eksekusi. Komnas HAM menduga terdapat kontak fisik langsung antara korban dengan terduga pelaku saat peristiwa terjadi.
 
Berdasarkan keterangan ahli, Yeremia meninggal bukan karena tembakan pada lengan kiri maupun kekerasan lainnya. Yeremia tidak ditembak pada titik kematian. Dia meninggal 5-6 jam pascaperistiwa karena kehabisan darah. 
 
"Kalau bagi Komnas HAM dengan keterangan ahli, melihat foto, merekonstruksi berbagai keterangan saksi sudah jelas kok pelakunya siapa, dilakukan dengan cara apa, bagaimana dan konteksnya kayak apa. Sudah terang benderang kalau bagi Komnas HAM," ujar Choirul
 
Choirul mengatakan Komnas HAM akan mengikuti langkah terbaik dalam pengusutan kasus itu. Jika autopsi diperlukan, Komnas HAM akan mengikutinya dengan seksama.
 
"Kami menghormati pilihan-pilihan pihak keluarga, mau memilih autopsi kami bersedia hadir, mau memilih tidak autopsi kami juga menghormatinya karena yang paling penting adalah bagaimana kita memastikan pengungkapan kasus ini seterangnya," ungkap Choirul. 
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif