Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (rompi oranye) dibawa petugas masuk gedung KPK. MI/Susanto
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (rompi oranye) dibawa petugas masuk gedung KPK. MI/Susanto

Populer Nasional: Edhy Prabowo Sewa Apartemen untuk Pebulu Tangkis Hingga Komunikasi Pilot Sriwijaya SJ-182

Nasional kpk perdagangan uang kasus korupsi Berita Terpopuler Nasional Edhy Prabowo Sriwijaya Air Jatuh Sriwijaya Air SJ182
Achmad Zulfikar Fazli • 04 Februari 2021 08:07
Jakarta: Isu seputar kasus dugaan suap dalam ekspor benih lobster atau benur masih menjadi daya tarik bagi pembaca Medcom.id. Pemberitaan ini paling banyak diburu pembaca Kanal Nasional Medcom.id pada Rabu, 3 Februari 2021.
 
Kasus rasuah tersebut telah menjerat tujuh tersangka. Di antaranya mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Safri dan Andreau Pribadi Misanta, pengurus PT ACK Siswadi, staf istri Menteri Kelautan dan Perikanan Ainul Faqih, dan Amiril Mukminin. 
 
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami dugaan rasuah yang dilakukan Edhy Prabowo Cs. Termasuk, aliran uang haram tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam perjalananya, KPK mendapat informasi adanya pemakaian uang suap untuk mebayar sewa apartemen untuk pebulu tangkis Keysa Maulitta Putri dan Debby Susanto. Namun, Edhy Prabowo membantah informasi itu.
 
"Saya memberikan apartemen, kalau Keysa sama Debby saya sudah sewakan apartemen di Kalibata City sudah lama sejak 2010 begitu saya kenal dia," kata Edhy di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Rabu, 3 Februari 2021.
 
Edhy mengatakan penyewaan apartemen itu jauh sebelum dirinya menjabat sebagai menteri. Edhy mengaku bingung jika penyewaan apartemen itu berhubungan dengan kasus rasuah yang menimpanya pada 2020 itu.
 
Selengkapnya baca di sini
 
Isu lain yang tak kalah populer di Kanal Nasional Medcom.id, yakni seputar jatunya pesawat Sriwijaya SJ-182. Pembaca banyak yang penasaran dengan perkembangan penyelidikan dari jatuhnya pesawat tersebut.
 
Direktur Utama Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Indonesia (AirNav Indonesia) Pramintohadi Sukarno membeberkan beberapa informasi terkait pesawat Sriwijaya SJ-182 yang jatuh di Kepulauan Seribu, Jakarta, pada Sabtu, 9 Januari 2021. Salah satunya soal komunikasi pilot Sriwijaya SJ-182 dengan petugas menara pemandu udara saat pesawat tujuan Jakarta-Pontianak itu mengudara.
 
"Pada pukul 14.36 WIB, Sriwijaya SJ-182 take off dari runway 25. Kemudian setelah melewati ketinggian 1.700 kaki, menghubungi petugas melalui frekuensi 179 Megahertz," kata Pramintohadi dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
 
Dia menyebut pesawat Sriwijaya Air SJ-182 berhasil mengudara hingga ketinggian 7.900 kaki pada pukul 14.38 WIB. Kemudian, pilot meminta mengarah ke 075 derajat kepada petugas menara pemandu udara dan diizinkan.
 
Petugas menara selanjutnya menginstruksikan pesawat menambah ketinggian menjadi 11 ribu kaki. Sebab, ada pesawat lain menempuh jalur yang sama dengan Sriwijaya Air SJ-182, yaitu Air Asia.
 
Hal itu dipatuhi pilot Sriwijaya Air SJ-182. Petugas menara pemandu udara pun mendapat laporan tidak ada masalah dari pilot. "Dan ini memang dijawab oleh pilot, clear," ucap dia.
 
Selengkapnya baca di sini
 
Pembaca Medcom.id juga banyak membaca seputar kasus transaksi jual beli menggunakan dinar dan dirham oleh Zaim Saidi. Pendiri Pasar Muamalah itu diketahui memesan dinar dan dirham ke PT Aneka Tambang (Antam) Tbk.
 
"(Mata uang) dicetak dengan mencantumkan tulisan Kesultanan Bintan Darul Masyur Sultan Haji Husrin Hood, Amir Zaim Saidi Amirat Nusantara, Amir Tikwan Raya Siregar, dengan harga sesuai acuan PT Antam," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu, 3 Februari 2021. 
 
Ramadhan mengatakan dinar yang digunakan berupa koin emas seberat 4 1/4 gram dan emas 22 karat. Dirham yang digunakan berupa koin perak murni seberat 2,975 gram. 
 
Selengkapnya baca di sini
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif