Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD. MI/Susanto
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD. MI/Susanto

Mahfud MD: Aparat Diduga Terlibat dalam Pembunuhan Pendeta di Intan Jaya

Nasional papua kelompok sipil bersenjata kelompok bersenjata di papua
Emir Chairullah • 22 Oktober 2020 06:41
Jakarta: Hasil investigasi tim pencari fakta gabungan (TGPF) kasus penembakan di Intan Jaya, Papua menyebutkan penembakan yang menewaskan Pendeta Yeremia Zanambani diduga dilakukan aparat keamanan. Pemerintah bakal menyelesaikan kasus itu sesuai hukum yang berlaku.
 
“Informasi dan fakta yang dikumpulkan di lapangan menunjukkan dugaan keterlibatan aparat. Walaupun ada juga kemungkinan dilakukan pihak ketiga,” kata Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD dikutip dari Media Indonesia, Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2020.
 
Mahfud meminta kepolisian dan kejaksaan menyelesaikan kasus ini tanpa pandang bulu. Mereka yang terlibat harus diproses hukum.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Pemerintah meminta Kompolnas untuk mengawal kasus. Laporan TGPF ini bisa menjadi bahan dalam rangka pro justicia,” ujar dia.
 
Mahfud menjelaskan pro justicia artinya penyelidikan tidak mempunyai batas waktu kecuali bukti telah cukup. Setelah cukup, kasus akan dibawa ke pengadilan.
 
(Baca: Pembunuh Staf KPU Yahukimo Diduga Eks Anggota TNI)
 
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu merekemondasikan agar daerah-daerah di Papua yang masih kosong dengan aparat pertahanan dan keamanan organik segera dilengkapi. “Ini untuk menjamin keamanan wilayah tersebut,” tegas dia.
 
Mahfud mengungkapkan laporan TGPF juga menyebut ada tiga kasus lain yang pelakunya merupakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Yakni pembunuhan dua anggota TNI dan satu warga sipil. Laporan ini berdasarkan temuan TGPF selama investigasi lapangan kurang lebih lima hari, mewawancarai 45 saksi dan mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP).
 
Sebelumnya, pengamat Papua asal LIPI Adriana Elisabeth mengatakan apabila pelaku pembunuhan berasal dari kalangan militer, sebaiknya diadili melalui pengadilan sipil. Supaya, prosesnya lebih transparan.
 
"Dan memenuhi keadilan keluarga korban,” ujar dia.
 
Ia mengungkapkan berdasarkan laporan saksi yaitu istri dan saudara ipar pendeta Yeremia, pelaku penembakan merupakan anggota TNI. Bahkan, Yeremia mengetahui nama pelaku.
 
"Karena itu perlu ada perlindungan terhadap saksi ketika mengungkap nama pelakunya,” tutur Adriana.
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif