Ilustrasi/Medcom.id
Ilustrasi/Medcom.id

Penyuap Nurhadi Disebut Pernah Minta Bantuan Iwan Bule

Nasional mahkamah agung Kasus Suap Suap di MA
Fachri Audhia Hafiez • 11 November 2020 20:44
Jakarta: Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto disebut pernah meminta bantuan mantan Kapolda Metro Jaya Komjen (Purn) M Iriawan atau Iwan Bule. Hiendra sempat terjerat kasus dan ditahan di Polda Metro Jaya.
 
Kesaksian itu diungkap kakak kandung Hiendra, Hengky Soenjoto, yang bersaksi di persidangan kasus dugaan korupsi terkait penanganan perkara di Mahkamah Agung (MA). Eks Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi dan menantunya Rezky Herbiyono menjadi terdakwa dalam perkara ini.
 
"Saya diminta sama Hiendra menghubungi beberapa orang termasuk Pak Haji Bakrie. Dia tokohnya orang Madura, beliau kan dekat sama Iwan Bule ya sebagai kapolda," kata Hengky di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 11 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca:Legal Manager PT MIT Diperiksa Terkait Kasus Nurhadi
 
Hengky mengatakan Hiendra dipenjara karena suatu kasus yang melibatkan seseorang bernama Azhar Umar pada 2015. Namun dia tidak mengetahui detail perkara yang membuat adiknya dibui.
 
"Karena posisi beliau (Hiendra) di penjara, cuma awal mulanya kenapa sampe ribut saya enggak tahu," ucap Hengky.
 
Berdasarkan surat dakwaan Azhar Umar mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap Hiendra di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang didaftarkan tanggal 5 Januari 2015 sebagaimana register perkara Nomor 2/PDT.G/2015/PN Jkt.Pst. Gugatan itu terkait akta Nomor 116 tertanggal 25 Juni 2014 tentang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
(RUPSLB) PT MIT.
 
Sementara itu, Hengky juga minta tolong ke adik Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal (Purn) Budi Gunawan alias BG. Namun dia tidak menyebut nama adik BG yang dimaksud.
 
Selanjutnya, dia mendekati Rezky Herbiyono untuk memuluskan adiknya keluar dari jerat hukum. Karena Hengky memperoleh informasi dari Hiendra bahwa Rezky punya kenalan polisi sama halnya dengan Nurhadi.
 
"Pak Hiendra cerita kalau Pak Nurhadi kenal sama Pak BG, jadi saya suruh sampaikan saja. Kalau langsung minta tolong ke Pak Nurhadi enggak pernah cuma saya minta tolong Mas Rezky," tutur Hengky.
 
Tetapi Rezky tak kunjung memberikan bantuan ke Hiendra. Hengky menyebut tak ada kabar dari Rezky hingga adiknya dinyatakan bersalah di pengadilan.
 
"Setelah itu enggak ada beritanya lagi (Rezky). Sampai akhirnya adik saya pelimpahan P-21 di kejaksaan dan divonis menjalani hukuman," terang Hengky.
 
Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi total Rp83 miliar. Dalam perkara suap, keduanya didakwa menerima Rp45,7 miliar dari Hiendra Soenjoto. Sementara itu, nilai gratifikasi untuk keduanya mencapai Rp37,2 miliar.
 
Uang haram tersebut hasil urus tujuh perkara. Nurhadi dan Rezky diduga 'dagang' perkara dari pengadilan tingkat pertama hingga MA.
 
Dalam perkara suap, Nurhadi dan Rezky didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 
Sedangkan dalam perkara gratifikasi, keduanya didakwa melanggar Pasal 12B Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.
 
(ADN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif