Tersangka Nurhadi. MI/Rommy Pujianto
Tersangka Nurhadi. MI/Rommy Pujianto

Mencari Keberadaan Nurhadi

Nasional Suap di MA Rangkuman Nasional
Renatha Swasty • 12 Maret 2020 23:24
Jakarta: Sebulan sudah eks Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi masuk daftar pencarian orang (DPO). Pencarian yang dilakukan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan polisi belum membuahkan hasil.
 
Penggeledahan ke sejumlah tempat yang diduga jadi lokasi persembunyian tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi penanganan perkara di Mahkamah Agung pada 2011- 2016 itu nihil. Usaha mencari Nurhadi sampai ke ujung Provinsi Jawa juga belum membuahkan hasil.
 
Organisasi masyarakat yang bergerak di bidang antikorupsi turut membantu. Mereka memberikan info terkait keberadaan Nurhadi. Tapi, batang hidung Nurhadi belum juga terlihat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berikut usaha-usaha pencarian penyidik:

1. Rumah Mertua Nurhadi

Penyidik KPK menggeledah rumah mertua Nurhadi di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu, 26 Februari 2020. Namun, penyidik tidak menemukan Nurhadi.
 
"Informasi terakhir Tulungagung tidak mendapatkan para DPO sehingga kemudian malam ini masih dilakukan penggeledahan ke tempat lain," kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK Ali Fikri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Rabu 26 Februari 2020.
 
(Baca:KPK Tak Bawa Bukti dari Rumah Mertua Nurhadi)
 
Tim kemudian bergerak ke Surabaya. Tim mencari keberadaan Nurhadi di rumah adik ipar Nurhadi, Rahmat Santoso. Rahmat merupakan saudara istri Nurhadi, Tin Zuraida.
 
Namun, KPK juga tidak menemukan Nurhadi. Penyidik juga menggeledah firma hukum milik Rahmat Santoso di Surabaya. Beberapa dokumen dan alat komunikasi disita.

2. Rumah di Jakarta

Pencarian Nurhadi juga dilakukan di Ibu Kota. Penyidik mencari Nurhadi di rumah yang terletak di Jakarta Selatan.
 
"Sesuai dengan alamat yang di praperadilannya saat itu yaitu di Hang Lekir dan di Patal Senayan," kata Ali Fikri, Kamis, 5 Maret 2020.
 
Lagi-lagi, tim belum menemukan Nurhadi. KPK juga terus memanfaatkan informasi dari masyarakat buat mengetahui keberadaan Nurhadi.
 
(Baca:KPK Endus Keberadaan Nurhadi di Jakarta)

3. Vila di Bogor

Tim meyakini Nurhadi bersembunyi di villa miliknya di Bogor. Tim lalu menggeledah vila di Desa Sukamanah, kawasan Puncak.
 
"Para DPO, NH, dan kawan-kawan dan istri belum ditemukan oleh KPK," kata Ali Fikri, Senin, 9 Maret 2020.
 
Tim juga mengejar istri Nurhadi, Tin Zuraida lantaran tak kooperatif. Tin mangkir tiga kali panggilan penyidik.
 
Namun, tim berhasil menyita belasan motor dan satu mobil di vila itu. "Ada beberapa motor mewah belasan jumlahnya, motor gede begitu ya, dan kemudian ada empat mobil mewah yang terparkir di gudang di sebuah vila yang diduga milik tersangka NH," tutur Ali.
 
Mencari Keberadaan Nurhadi
Vila Nurhadi di Bogor. DOK Istimewa


4. Apartemen Mewah

Direktur Lokataru Foundation Haris Azhar turut membantu penyidik. Dia menyebut Nurhadi sembunyi di sebuah apartemen mewah di Jakarta.
 
Apartemen itu dijaga super ketat. Tidak sembarang orang dapat mengakses ke lokasi.
 
"Mereka dapat proteksi perlindungan yang golden premium protection, yang KPK kok jadi kayak penakut gini? Enggak berani ambil orang tersebut. Itu kan akhirnya menjadikan pengungkapan kasus ini jadi kayak terbengkalai," kata Haris, Selasa, 18 Februari 2020.
 
(Baca:Muncul Kecurigaan, Ada yang Melindungi Nurhadi)
 
Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman juga meyakini Nurhadi sembunyi di apartemen di bilangan Jakarta Selatan. Dia berharap tim segera menggeledah sejumlah apartemen.
 
"Di kawasan SCBD dan Jalan Senopati Senayan, yang alamatnya telah kami berikan secara rinci kepada KPK pada Senin, 9 Maret 2020," tutur Boyamin, Rabu, 11 Maret 2020.
 

KPK menetapkan tiga tersangka terkait kasus suap di MA, yakni Nurhadi; Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto; dan menantu Nurhadi, Rezky Herbiono. Ketiga tersangka buron.
 
Nurhadi diduga menerima suap Rp33,1 miliar dari Hiendra melalui Rezky. Suap ditujukan agar Hiendra memenangkan perkara perdata kepemilikan saham PT MIT. Nurhadi juga diduga menerima sembilan lembar cek dari Hiendra terkait peninjauan kembali (PK) perkara di MA.
 
Nurhadi juga diduga mengantongi Rp12,9 miliar dalam kurun waktu Oktober 2014 sampai Agustus 2016. Gratifikasi ini diduga terkait pengurusan perkara sengketa tanah di tingkat kasasi, PK, serta permohonan perwalian.
 

(REN)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif