Barang bukti kasis pakaian bekas. Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana
Barang bukti kasis pakaian bekas. Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana

Pakaian Bekas Impor Terlarang

Nasional pakaian bekas
Siti Yona Hukmana • 12 September 2019 18:13
Jakarta: Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Metro Jaya Kombes Iwan Kurniawan menegaskan pakaian bekas impor dilarang masuk ke Indonesia. Hal itu diatur dalam dalam Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dan UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
 
"Ada pasal yang mengatur dan ada sanksi, maka kami melakukan proses penegakan hukum. Kalau ada tindakan yang melanggar aturan, kami lakukan penindakan hukum secara tegas," kata Iwan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis, 12 September 2019.
 
Sementara itu, banyak masyarakat menjual pakaian bekas impor di Pasar Senen, Jakarta Pusat, hingga media sosial Instagram. Menyikapi itu, Iwan mengaku belum berniat melakukan razia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita sementara ini memutus mata rantainya lebih dulu supaya lebih efektif. Dari hulu kita lakukan penindakan, dengan sendirinya di pasaran akan berkurang," ujar dia.
 
Direktur Tertib Niaga Kementerian Perdagangan Wahyu Hidayat menambahkan larangan masuknya pakaian bekas impor ke Indonesia itu diatur Peraturan Kementerian Perdagangan (Permendag) Nomor 51 Tahun 2015. Jika didapati, kata dia, pakaian itu wajib dimusnahkan.
 
"Pelaku usahanya atau importirnya tertangkap akan diproses sesuai ketentuan berlaku. Kita kaitkan dengan UU Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen sanksinya lima tahun penjara denda Rp2 miliar," ungkap dia.
 
Menurut Wahyu, seharusnya masyarakat Indonesia malu menggunakan pakaian bekas dari orang asing. Pasalnya, pakaian bekas itu mengandung penyakit dan sangat berbahaya bagi kulit.
 
Subdirektorat I Industri dan Perdagangan (Indag) Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menggagalkan penyelundupan tekstil, pakaian bekas, hingga sepatu berbagai merek dari Tiongkok. Hasil uji laboratorium, tekstil bahan kain dan pakaian bekas itu mengandung bakteri.
 
Sementara itu, sepatu impor dinilai telah merugikan pedagang lokal. Padahal, pedagang lokal telah membuat sepatu berstandar nasional Indonesia (SNI).
 
"Tiba-tiba masuk sepatu dari luar dengan harga murah. Pelaku usaha lokal sangat terpukul dengan adanya sepatu-sepatu ini," pungkas Wahyu.
 

 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif