Gubernur Aceh Mengklaim Banyak Berjasa untuk Indonesia

Juven Martua Sitompul 06 Juli 2018 16:05 WIB
OTT Gubernur Aceh
Gubernur Aceh Mengklaim Banyak Berjasa untuk Indonesia
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf/ANT/Reno Esnir
Jakarta: Gubernur Aceh Irwandi Yusuf (IY) mengungkit jasa-jasanya mendamaikan Provinsi Aceh dengan Indonesia. Irwandi bahkan mengklaim Aceh tidak akan berdamai dengan Indonesia tanpa dirinya.

"Saya hanya mau memberi pernyataan bahwa sebetulnya damainya Aceh dengan NKRI, saham saya besar di situ," kata Irwandi usai diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan suap pengalokasian dan penyaluran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) Tahun Anggaran 2018 di Gedung KPK, Jakarta, Jumat, 6 Juli 2018.

Eks Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu juga mengakuterlibat dalam perundingan, mengumpulkan senjata para kombatan GAM, hingga akhirnya berdamai.


Ia menjadi gubernur pertama pascaperdamaian. Ia juga mengklaim berbuat banyak selama menjabat.

"Saya membuat terobosan-terobosan yang sebagiannya diadopsi oleh pemerintah pusat seperti JKN, P2K, dan beberapa hal lain dalam hal lingkungan hidup," beber dia.

Baca: KPK Tahan Gubernur Aceh

Irwandi juga mengaku berjasa banyak mengamankan negara dalam rongrongan terorisme di Aceh. Saat itu, Aceh menjadi pusat pelatihan kelompok radikal tersebut.

"Teroris di sana enggak bisa beraktivitas dan ke lapangan pun saya ikut, ada begitu banyak hal yang saya lakukan untuk kebaikan negeri ini," ujar dia.

KPK menetapkan empat tersangka kasus dugaan suap DOKA Tahun Anggaran 2018. Keempat orang tersangka itu ialah Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Bupati Bener Meriah Ahmadi, Hendri Yuzal, dan Syaiful Bahri.

Ahmadi diduga memberikan uang Rp500 juta kepada Irwandi. Uang itu merupakan bagian dari Rp1,5 miliar yang diminta Irwandi terkait fee ijon proyek-proyek pembangunan infrastruktur yang bersumber dari DOKA.

Baca: Pemberhentian Gubernur Aceh Tunggu KPK

Dugaan awal, pemberian itu merupakan jatah komitmen fee 8 persen yang menjadi bagian pejabat Pemerintah Provinsi Aceh dari setiap proyek. Pemberian dilakukan melalui sejumlah orang kerpecayaan Irwandi, yaitu Hendri dan Syaiful.

Irwandi sebagai penerima suap dijerat Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU Nomor 20Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan Ahmadi selaku pemberi suap disangka melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.





(OJE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id