Rp12 Miliar untuk Jadi Elite Golkar

Dero Iqbal Mahendra 18 Oktober 2018 08:41 WIB
suap di bakamla
Rp12 Miliar untuk Jadi Elite Golkar
Mantan anggota DPR Fayakhun Andriadi (tengah) menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus korupsi KTP elektronik Irvanto Hendra Pambudi Cahyo di Pengadilan Tipikor, Jakarta. Foto: MI/Pius Erlangga.
Jakarta: Anggota nonaktif Komisi I DPR dari Fraksi Partai Golkar Fayakhun Andriadi mengaku dibantu Direktur PT Rohde and Schwarz Indonesia Erwin Arief sebanyak Rp12 miliar. Dana itu ditujukan untuk mendapatkan jabatan tinggi di Partai Golkar.

"Erwin mengatakan itu dari Fahmi (Darmawansyah), 1 persen dari besaran anggaran atau setara Rp12 miliar. Saya terima dan kalau diizinkan saya juga sudah menyusun penggunaannya, dan kalau perlu akan saya berikan," ungkap Fayakhun dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, kemarin.

Fayakhun sebelumnya didakwa menerima suap US$911.480 dari Direktur PT Merial Esa Fahmi Darmawansyah. Fulus itu terkiat pengadaan satelit monitoring dan drone dalam anggaran Badan Keamanan Laut (Bakamla) melalui APBN Perubahan 2016.


"Awalnya saya mengatakan, 'Win, ini kebetulan akan ada munas (musyawarah nasional) Bulan Mei, dan saya jadi panitia munas. Kalau rencana kamu supaya saya jadi salah satu ketua DPP untuk bantu-bantu munas saat ini timing-nya. Munas 18-20 Mei di Bali.' Saya mengingatkan Erwin," katanya.

Dia menjelaskan Erwin berupaya menenangkannya bila biaya untuk munas sudah beres. "Erwin mengatakan ke saya, 'Tenang saja Fayakhun sebelum munas beres deh, supaya lo gagah.' Tapi dalam perjalanannya tidak seperti yang diucapkan," tutur Fayakhun.

Ia pun mengakui menggunakan rekening luar negeri karena Erwin mengaku uang untuknya ada di luar negeri. Fayakhun memutuskan untuk menggunakan rekening money changer yang diberikan anak buahnya, Agus Gunawan.

"Itu bukan rekening saya, anak buah saya namanya Agus pernah mengatakan, 'Pak kalau butuh rekening di luar negeri ada temannya yang bisa bantu'. Temannya itu ternyata punya money changer sehingga gunakan rekening temannya itu."

Baca: Fayakhun Sebut Idrus dan Yorrys Ikut Terima Duit Bakamla

Fayakhun lalu memberikan nomor rekening ke Erwin, tetapi Erwin tidak mengirimkan uang sesuai waktu yang disebutkan. "Erwin hanya mengatakan, 'Kun gimana kalau Rp12 miliar?' Itu dalam dolar AS, US$911 ribu kurang lebih, dalam rupiah Rp3,5 miliar, dan S$750 ribu," jelas dia.

Ternyata, kata dia, uang 1 persen itu berasal dari Fahmi Darmawansyah. Fulus itu uang muka pengurusan anggaran di Bakamla yang total anggarannya berjumlah Rp1,2 triliun.





(OGI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id