Gedung Mahkamah Agung. MI/Barry Fathahilah.
Gedung Mahkamah Agung. MI/Barry Fathahilah.

MA Tolak PK Baiq Nuril

Nasional pencemaran nama baik
Fachri Audhia Hafiez • 05 Juli 2019 13:20
Jakarta: Mahkamah Agung (MA) menolak Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan mantan guru honorer SMAN 7 Mataram Baiq Nuril Maknun atas kasus pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Baiq dituduh menyebarluaskan rekaman dugaan asusila yang dilakukan Kepala Sekolah SMAN 7.
 
"MA menolak permohonan PK pemohon terpidana Baiq Nuril yang mengajukan PK ke MA dengan Nomor 83 PK/Pid.Sus/2019. Dengan ditolaknya permohonan PK pemohon atau terpidana tersebut maka putusan kasasi MA yang menghukum dirinya dinyatakan tetap berlaku," kata juru bicara MA Andi Samsan Nganro di Jakarta, Jumat, 5 Juli 2019.
 
Ketua majelis hakim Suhadi dibantu hakim anggota Margono dan Desnayeti dalam perkara itu. Majelis hakim menilai dalil pemohon putusan MA dalam tingkat kasasi mengandung muatan kekhilafan hakim atau keliru tak dapat dibenarkan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Karena putusan judex yuris/MA tersebut sudah tepat dan benar dalam pertimbangan hukumnya," ujar Andi.
 
Baca: Hal yang Jadi Fokus RUU Keamanan dan Ketahanan Siber
 
MA menilai dalam perkara a quo Baiq merekam pembicaraan via ponsel antara korban atau kepala sekolah SMAN 7 dan Baiq. Itu dilakukan ketika korban menelepon Baiq sekitar satu tahun yang lalu, dan hasil rekaman itu disimpan oleh Baiq.
 
Kemudian barang bukti hasil rekaman diserahkan kepada saksi Imam Mudawin. Imam diduga memindahkan rekaman tersebut ke laptopnya hingga tersebar luas.
 
"Bahwa terdakwa (Baiq) yang menyerahkan ponsel miliknya kepada orang lain kemudian dapat didistribusikan dan dapat diakses informasi atau dokumen eletronik yang berisi pembicaraan yang bermuatan tindak kesusilaan tidak dapat dibenarkan. Atas alasan tersebut permohonan PK pemohon atau terdakwa ditolak," ujar Andi.
 
Sebelumnya, Pengadilan Negeri Tinggi kota Mataram telah memvonis Baiq tidak bersalah dari tuduhan pada 26 Juli 2017. Namun MA ternyata mengabulkan kasasi jaksa penuntut umum (JPU). Nuril divonis enam bulan penjara dengan denda Rp500 juta pada Senin, 11 November 2018.
 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif