Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. (Foto: Medcom.id/Kautsar Prabowo)
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. (Foto: Medcom.id/Kautsar Prabowo)

Polisi Usut Penyebar Hoaks Brimob Aniaya Warga Hingga Tewas

Nasional Demo Massa Penolak Pemilu
Siti Yona Hukmana • 25 Mei 2019 12:03
Jakarta: Karopenmas Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menegaskan video viral sejumlah anggota Brimob menganiaya seorang warga hingga tewas adalah hoaks. Pihaknya akan mengusut penyebar video tersebut.
 
"Masih melakukan pendalaman terhadap kasus akun yang menyebarkan berita hoaks itu. Kami bisa buktikan akun tersebut sebagai penyebar berita hoaks. Akan kami tindak lanjuti," kata Dedi di Polda Metro Jaya, Sabtu, 25 Mei 2019.
 
Video viral itu pertama kali diunggah akun Twitter Putra Melayu @ardi_riau. Video berdurasi 37 detik itu diunggah pada Jumat, 24 Mei 2019 pukul 00.17 WIB.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Keterangan pada video menyebut 'Pakaian yang kau pakai, senjata yang kau tenteng, rotan yang kau pakai untuk memukul, itu semua dibeli dari uang rakyat, yang dikumpulkan dari pajak, ke mana hati nurani mu wahai aparat berseragam uang rakyat?'
 
Baca juga:Polisi Klarifikasi Video Brimob Aniaya Pria di Kampung Bali
 
Dedi memastikan bahwa pria dalam video itu merupakan salah satu perusuh saat aksi 22 Mei. Tersangka atas nama Andri Bibir.
 
"Orang dalam video tersebut adalah tersangka Andri Bibir. Dari pakaiannya, dia menggunakan kaus hitam dan celana jeans yang sudah dipotong pendek sesuai dengan di video. Sedangkan kabar hoaks yang disebarkan di akun Twitter bukan foto yang bersangkutan," ungkap Dedi.
 
Dedi menilai video yang viral sudah di manipulasi oleh seseorang. Sosok yang dipukul bukan Andri Bibir, melainkan ditempelkan gambar orang lain.
 
"Tidak benar kalau korban adalah anak 16 tahun. Tidak benar anak dalam foto tersebut meninggal karena kejadian dalam video tersebut," tutur Dedi.
 
Dedi menegaskan, penyebar berita bohong itu akan dikenakan pidana kurungan. Penyebar hoaks itu disangkakan Pasal 45 dan 28 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Pasal 14 ayat 1 dan 2, Pasal 15 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946.
 
"Ancaman hukumannya di atas enam tahun, karena hoaks ini menimbulkan kegaduhan," pungkas Dedi.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif