Presiden Joko Widodo. Foto: Antara/Wahyu Putro.
Presiden Joko Widodo. Foto: Antara/Wahyu Putro.

Indonesia Siapkan Pengacara Terbaik Lawan Gugatan Uni Eropa

Nasional nikel indonesia-uni eropa
Damar Iradat • 12 Desember 2019 12:50
Jakarta: Presiden Joko Widodo meminta jajarannya menyiapkan pengacara terbaik menghadapi gugatan Uni Eropa soal larangan ekspor bijih nikel per 1 Januari 2020. Jokowi ingin Indonesia tak lagi mengekspor bijih nikel.
 
"Siapkan lawyer yang paling baik, sehingga kita bisa memenangkan gugatan itu," tegas Jokowi saat melepas ekspor perdana Isuzu Traga di Pabrik Isuzu Karawang Plant, Karawang, Kamis, 12 Desember 2019.
 
Pemerintah sudah memulai hilirisasi dan industrialisasi bahan-bahan mentah dari sumber daya alam (SDA), termasuk bijih nikel. Hilirisasi dan industrialisasi juga akan memperluas lapangan kerja. Itu yang menyebabkan pemerintah berhenti mengekspor bijih nikel mulai tahun depan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jokowi menegaskan tak akan ciut. Ia akan menghadapi protes negara lain jika menyangkut kepentingan nasional.
 
"Jangan digugat terus grogi, enggak. Kita hadapi, karena memang kita ingin bahan-bahan mentah kita ini ada nilai tambahnya," jelas mantan Gubernur DKI Jakarta itu.
 
Pemerintah mempercepat larangan ekspor nikel ore kadar rendah dari sebelumnya dilakukan mulai 1 Januari 2022 menjadi 1 Januari 2020. Artinya, batas waktu perusahaan bisa mengekspor nikel mentah hingga 31 Desember 2019.
 
Percepatan larangan ekspor dilatarbelakangi tiga alasan kuat. Pertama melihat jumlah cadangan dan rekomendasi ekspor yang sudah sangat besar.
 
Cadangan terbukti mencapai hampir 698 juta ton dan cadangan terkira 2,8 miliar ton. Selain itu, rekomendasi ekspor yang telah diberikan sejak 2017 hingga Juli 2019 mencapai 76 juta ton dan realisasinya sebesar 38 juta ton.
 
Kedua, kemajuan teknologi diyakini dapat mengolah nikel kadar rendah menjadi komponen berguna untuk membangun baterai. Hal ini dilakukan dalam rangka mendukung percepatan pengembangan mobil listrik.
 
Ketiga, pembangunan fasilitas pabrik pemurnian dan pengolahan (smelter) dinilai sudah cukup banyak. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono menyebutkan ada 36 smelter nikel. Dari jumlah tersebut 11 smelter telah beroperasi dan 25 lainnya masih progres pembangunan.
 
Berdasarkan data UN Comtrade, Indonesia terakhir kali mengekspor bijih nikel dengan kode harmonized system (HS) 2604 ke Uni Eropa pada 2014. Ekspor RI ke blok negara Eropa mencapai 38.335 ton. Namun, sejak 2015-2018 Indonesia tidak mengekspor bijih nikel ke UE.
 

(AZF)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif