Penyidik senior KPK Novel Baswedan menyampaikan keterangan pers ketika tiba di Gedung KPK, Jakarta. Foto: MI/Rommy Pujianto.
Penyidik senior KPK Novel Baswedan menyampaikan keterangan pers ketika tiba di Gedung KPK, Jakarta. Foto: MI/Rommy Pujianto.

Polisi: Isu Kewenangan Berlebihan Novel Hasil Analisis TPF

Nasional novel baswedan
Cindy • 18 Juli 2019 16:15
Jakarta: Mabes Polri menyebut isu wewenang berlebihan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan yang diduga menjadi penyebab teror adalah kesimpulan Tim Pencari Fakta (TPF). Isu itu didapat dari analisis.
 
"Kelebihan kewenangan (Novel) merupakan bagian analisis yang menghasilkan probabilitas, kemungkinan-kemungkinan akan terjadinya peristiwa tersebut," kata Kepala Bagian Penerangan Masyarakat (Kabag Penum) Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis, 18 Juli 2019.
 
Menurut dia, kesimpulan didapat dari hasil penyelidikan dan penyidikan. Keterangan dan alibi para saksi juga didalami.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kesimpulan tersebut, kata dia, mengarah pada kemungkinan penanganan enam kasus hukum. Kasus tersebut melibatkan beberapa petinggi negara.
 
"Maka tadi disimpulkan adanya sebuah pemikiran, motivasi yang berasal dari penanganan yang dilakukan Novel. Lahirlah tadi enam kasus yang menjadi high profile," ucap Asep.
 
Novel diserang orang tak dikenal, Selasa, 11 April 2017, usai salat Subuh di Masjid Al-Ihsan di dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dua tahun lebih pascateror, polisi belum juga mengungkap sosok pelaku.
 
Teror kepada Novel Baswedan diduga bermotifkan balas dendam. Aksi ini bukan karena masalah pribadi, tetapi lebih berhubungan terhadap pekerjaan Novel di Lembaga Antirasuah.
 
"Terdapat probabilitas kasus yang ditangani korban (Novel) yang berpotensi menimbulkan serangan balik akibat adanya dugaan penggunaan kewenangan secara berlebihan," kata salah satu anggota tim pakar TPF Nur Kholis, Rabu 17 Juli 2019.
 
Baca: Kuasa Hukum Novel Pesimistis dengan Tim Teknis Polri
 
Menurut dia, TPF sudah menganalisis penggunaan asam sulfat untuk menyerang Novel. Pelaku diduga tak berencana membunuh Novel dengan cairan itu. Teror diduga untuk membalas sakit hati. Pelaku ingin memberi pelajaran ke Novel.
 
"Asam sulfat H2SO4 tak menyebabkan luka berat permanen dan baju gamis korban tidak rusak," jelas dia.
 
Teror ini, jelas dia, kemungkinan besar bisa lakukan pelaku seorang diri, atau dengan memerintahkan orang lain. Penyerangan diduga berkaitan dengan enam kasus yang ditangani Novel di KPK.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif