PT NKE Tak Mau Dihukum Sendirian
Suasana sidang di Tipikor Jakarta. Foto: Medcom.id/Damar Iradat.
Jakarta: Mantan Manager Marketing PT Nusa Konstruksi Enjiniring (NKE) Mohammad El Idris menyebut aliran uang hasil proyek pembangunan Rumah Sakit Khusus Infeksi dan Pariwisata Universitas Udayana, Bali, Tahun Anggaran 2009-2010 tidak hanya mengalir ke perusahaannya. Ia menyebut sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga kecipratan duit dari proyek tersebut.
 
Hal tersebut diungkap Idris saat bersaksi dalam persidangan dengan terdakwa PT NKE atau yang sebelumnya bernama PT Duta Graha Indah (PT DGI). Menurut Idris, proses hukum yang membelit PT NKE dirasa tak adil, sebab ada sejumlah BUMN dalam proyek tersebut yang juga mendapat uang dari mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin.
 
"BUMN juga begitu, pengen dapat proyek juga, tapi yang diadili cuma kita aja, yang lain enggak diadili. Yang dapat (uang) dari Nazarudin bukan kita saja, ada PP, ada Waskita, ada Adi Karya," kata Idris di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 24 Oktober 2018.
 
Idris mengatakan, sejak awal PT NKE juga mengikuti proses lelang dan bersaing dengan BUMN lain. Pada pembangunan tahap pertama, menurutnya saat itu Nazaruddin kerap membandingkan kinerja PT NKE dengan BUMN lainnya.
 
Kemudian, pada tahap kedua, menurut dia, Nazaruddin menilai kinerja PT NKE lebih baik dari BUMN lain yang terlibat dalam proyek tersebut. Mereka juga memberikan fee yang lebih besar ke Nazaeuddin saat itu.
 
"Awalnya (kita kasih) fee besar, karena saingan dengan BUMN yang lain. BUMN kasih segini, masa kita enggak berani, kita kan cari proyek," tuturnya.
 
Kemudian, menurutnya, PT NKE bernegosiasi dengan Direktur Marketing Permai Group, Mindo Rosalina Manulang yang juga tangan kanan Nazaruddin. Dari hasil negosiasi, akhirnya diputuskan PT NKE akan memberi fee 15 persen dari nilai proyek.
 
"Akhirnya mereka mau fee 15 persen, karena kita juga pengen bersaing dengan BUMN," kata Idris.

Baca: PT NKE Setor Uang ke Anggota DPR Lewat Nazaruddin

PT Nusa Konstruksi Enjiniring (PT NKE) sebelumnya didakwa merugikan negara sekira Rp25 miliar. Ini terkait pembangunan Rumah Sakit Khusus Infeksi dan Pariwisata Universitas Udayana, Bali, Tahun Anggaran 2009-2010.
 
PT NKE, sebelumnya bernama PT Duta Graha Indah Konstruksi (PT DGIK), didakwa melakukan korupsi bersama-sama dengan mantan Direktur Utama PT NKE Dudung Purwadi. Kemudian, eks anggota DPR Muhammad Nazarudin dan eks Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan Universitas Udayana Made Meregawa.
 
Mereka diduga sengaja membuat kesepakatan untuk memenangkan PT NKE dalam lelang proyek pembangunan Rumah Sakit Khusus Infeksi dan Pariwisata Universitas Udayana. Perbuatan tersebut menguntungkan PT NKE sejumlah Rp25 miliar dan memperkaya Nazarudin beserta perusahaannya yakni PT Anak Negeri, PT Anugerah Nusantara, dan Grup Permai senilai Rp10 miliar.
 
Atas perbuatannya, PT NKE disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) Juncto Pasal 18 dan atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 dan Pasal 64 ayat (1) KUHP.




(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id