ilustrasi/medcom.id
ilustrasi/medcom.id

Polisi Kesulitan Kejar Aset Tersangka Investasi Alkes Bodong

Nasional penipuan polri polisi Investasi Bodong Alat Kesehatan
Siti Yona Hukmana • 14 Januari 2022 18:26
Jakarta: Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri tengah mengejar aset empat tersangka kasus dugaan penipuan investasi program suntik modal alat kesehatan (alkes). Pengejaran aset diakui mengalami kesulitan. 
 
"Kesulitannya begini, melacak asetnya, mereka tiap level itu beda-beda rekeningnya. Jadi, bukan rekening perusahaan dipakai tapi rekening pribadi masing-masing leveling," kata Kasubdit V Dittipideksus Bareskrim Polri Kombes Ma'mun kepada Medcom.id, Jumat, 14 Januari 2021. 
 
Satu orang itu mengantongi empat sampai lima rekening. Ma'mun mengatakan pihaknya tidak fokus hanya mengejar aset. Melainkan, mengutamakan pemberkasan perkara keempat tersangka. Sebab, para tersangka bisa bebas apabila melewati batas waktu penahanan 120 hari.  

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Makanya, kita konsentrasi pada empat (tersangka) ini, kita kejar dulu pemberkasannya. Nanti, untuk aset kita kejar lagi di tindak pidana pencucian uang (TPPU)-nya gitu. Terpaksa kita pisah nanti pencucian uangnya," ungkap Ma'mun. 
 
Berkas perkara keempat tersangka masih berproses. Namun, penyidik disebut telah berkoordinasi dengan jaksa penuntut umum (JPU).
 
"Kita masih periksa-periksa beberapa ahli sama pihak bank untuk mengetahui segala macam transaksi, dan transaksi dari (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) juga belum keluar," ujar Ma'mun. 
 
Baca:  Polisi Sita Mobil dan Rumah Tersangka Investasi Alkes Bodong
 
Penyidik telah menyita sejumlah aset tersangka beberapa waktu lalu. Aset itu berupa rumah, tanah, mobil, sertifikat, buku tabungan, dan handphone. Namun, total nilai aset belum dapat dipastikan. Penyitaan masih terus dilakukan pihak kepolisian.
 
Polisi menetapkan empat tersangka dalam kasus investasi alkes bodong itu. Mereka ialah VAK, 21; BS, 32; DR, 27; dan DA, 26.
 
Para tersangka mengiming-iming korban keuntungan 10-30 persen yang dapat dicairkan dalam 1-4 minggu. Namun, keuntungan yang dijanjikan berbeda-beda, sesuai hasil penjualan.
 
Harga jual alkes per box ditarif tersangka VAK Rp2,1 juta. Keuntungan per box Rp650 ribu untuk pemesanan di bawah 1.000 box. Sedangkan, pemesanan di atas 1.000 box mendapat keuntungan Rp750 ribu per box.
 
Para tersangka mengaku menang tender pemerintah. Mereka meyakinkan korban menggunakan surat perintah kerja (SPK) palsu dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). 
 
Para investor masih mendapat keuntungan per Jumat, 3 Desember 2021. Namun, per Minggu, 5 Desember 2021, para korban tak lagi menerima keuntungan sesuai perjanjian awal. Para pelaku diduga membawa kabur uang korban yang disebut-sebut mencapai Rp1,3 triliun. 
 
Para tersangka dijerat Pasal 378 KUHP tentang Penipuan, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara; Pasal 372 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 56 KUHP tentang Tindak Pidana Penggelapan, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara; Pasal 46 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, dengan ancaman hukuman enam tahun penjara. 
 
Kemudian, Pasal 105 dan/atau Pasal 106 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang perdagangan, dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara; dan Pasal 3 dan/atau Pasal 4 dan/atau Pasal 5 dan/atau Pasal 6 Jo Pasal 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
 
(NUR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif