Ilustrasi KPK - MI.
Ilustrasi KPK - MI.

KPK Tetapkan Dirut CMI Teknologi Tersangka Suap Bakamla

Nasional suap di bakamla
Juven Martua Sitompul • 31 Juli 2019 18:17
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan empat tersangka kasus dugaan suap pengadaan perangkat transportasi informasi terintegritasi dengan Bakamla tahun 2016. Penetapan tersangka berdasarkan bukti permulaan yang cukup.
 
Empat orang yang ditetapkan sebagai tersangka yakni Ketua Unit Layanan Pengadaan, Leni Marlena, Anggota Unit Layanan Pengadaan, Juli Amar Ma'ruf, Direktur Utama PT CMI Teknologi, Rahardjo Pratjihno, dan Bambang Udoyo selaku pejabat pembuat komitmen (PPK).
 
"Berdasarkan uraian kasus di atas, disimpulkan telah ditemukan bukti permulaan yang cukup dugaan tindak pidana korupsi," kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Rabu, 31 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ihwal suap terjadi saat usulan anggaran pengadaan Backbone Coastal Surveillance System (BCSS) yang terintegrasi dengan Bakamla Integrated Information System (BIIS) sebesar Rp400 miliar, yang bersumber pada APBN-P masuk dalam anggaran Bakamla tahun 2016.
 
Saat itu, tepatnya pada 15 April 2016, Bambang selaku direktur data informasi diangkat menjadi PPK kegiatan peningkatan pengelolaan informasi, hukum, kerja sama keamanan dan keselamatan laut. Sedangkan, Leni diangkat sebagai ketua dan anggota unit layanan pengadaan (ULP) di lingkungan Bakamla pada 16 Juni 2016.
 
Awalnya, anggaran pengadaan BCSS yang terintegrasi dengan BIIS belum dapat digunakan. Namun, ULP Bakamla ngotot memulai proses lelang tanpa menunggu persetujuan anggaran dari Kementerian Keuangan.
 
Hingga akhirnya, pada 16 Agustus 2016, ULP Bakamla mengumumkan lelang pengadaan BCSS yang terintegrasi BIIS dengan pagu anggaran sebesar Rp400 miliar, dan nilai total HPS sebesar Rp399,8 miliar.
 
"Pada tanggal 16 September 2016 PT CMIT ditetapkan selaku pemenang dalam pengadaan BCSS yang terintegrasi dengan BIIS," kata Alexander.
 
Baca: KPK Bekukan Rp600 Miliar dari PT ME
 
Usai menetapkan PT CMIT sebagai pemenang tender, pada Oktober 2016, Kementerian Keuangan tiba-tiba memotong anggaran  Bakamla. Namun, ULP Bakamla tidak melakukan lelang ulang meski anggaran yang ditetapkan Kementerian Keuangan untuk pengadaan ini kurang dari nilai HPS pengadaan.
 
"Akan tetapi dilakukan negosiasi dalam bentuk Design Review Meeting (DRM) antara Pihak Bakamla dan PT CMIT terkait dengan pemotongan anggaran untuk pengadaan tersebut," ucapnya.
 
Menurut Alexander, negosiasi yang dilakukan adalah negosiasi biaya menyesuaikan antara nilai pengadaan dengan nilai anggaran yang disetujui atau ditetapkan oleh Kementerian Keuangan serta negosiasi waktu pelaksanaan. Hasilnya, harga pengadaan BCSS yang terintegrasi dengan BIIS menjadi sebesar Rp170,57 miliar, dan waktu pelaksanaan dari 80 hari kalender menjadi 75 hari kalender.
 
Selanjutnya, pada 18 Oktober 2016, kontrak pengadaan ditandatangani Bambang selaku pejabat pembuat komitmen, dan Rahardjo selaku direktur utama PT CMIT dengan nilai kontrak Rp170,57 miliar, termasuk PPN. Kontrak tersebut anggarannya bersumber dari APBN-P TA 2016 dan berbentuk lump sum.
 
Akibat perbuatan keempat tersangka ini, kerugian negara ditaksir mencapai Rp54.276.666.520,00. Kasus ini merupakan pengembangan dari perkara suap pengadaan satelit monitoring di Bakamla tahun anggaran 2016.
 
KPK hanya menangani tiga tersangka yakni Leni, Juli dan Rahardjo. Sementara Bambang ditangani oleh POM AL karena saat menjabat sebagai PPK yang bersangkutan merupakan anggota TNI AL.
 
Leni dan Juli disangkakan melanggar Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sedangkan, Rahardjo disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif