Penjagaan di kediaman Irjen Ferdy Sambo. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.
Penjagaan di kediaman Irjen Ferdy Sambo. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.

Begini Kronologi Penemuan Rekaman CCTV yang Hilang di Rumah Irjen Ferdy Sambo

Sri Yanti Nainggolan • 10 Agustus 2022 16:00
Jakarta: Teka-teki rekaman CCTV di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo yang sempat hilang akhirnya terpecahkan. Pengambilnya ternyata para personel polisi. 
 
Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri Komjen Agung Budi Maryoto memngakui bahwa tidak adanya rekaman CCTV di sekitar rumah dinas Irjen Ferdy Sambo membuat pengungkapan kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (J) terhambat. 
 
"Karena kami mengalami kesulitan, pada saat pelaksanaan olah tempat kejadian perkara (TKP) awal dilaksanakan kurang profesional dan beberapa alat bukti pendukung sudah diambil," kata Agung dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa, 9 Agustus 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Begini Kronologi Penemuan Rekaman CCTV yang Hilang di Rumah Irjen Ferdy Sambo
Irwasum Polri Komjen Agung Budi Maryoto dalam konferensi pers, Selasa, 9 Agustus 2022. Foto: Metro TV
 
Maka itu, kata dia, sepekan penuh tim khusus (timsus) bergerak menyelidiki kendala-kendala yang diduga menghambat proses penyidikan kasus Brigadir J. Akhirnya, ditemukan oleh intelijen bahwa ada anggota yang tidak profesional dengan mengambil CCTV dan bukti lainnya.
 
"Selama satu minggu kami bergerak mendalami, kemudian kami mendapatkan informasi intelijen dari Badan Intelijen dan Keamanan (Baintelkam) Polri bahwa dijumpai ada beberapa personel yang diketahui mengambil CCTV dan yang lain-lainnya," beber dia. 
 
Kemudian, Itwasum membuat surat perintah gabungan dengan melibatkan Divisi Propam Polri dan Bareskrim Polri dan melaksanakan pemeriksaan khusus kepada 56 personel Polri.
 

56 anggota Polri diperiksa terkait pengambilan CCTV di rumah Irjen Ferdy Sambo

Menurut Agung, dari 56 anggota itu, sebanyak 31 di antaranya diduga melanggar kode etik profesi Polri. 
 
"Dari 56 personel Polri tersebut terdapat 31 personel Polri yang diduga melanggar kode etik profesi Polri atau KKEP," kata Agung.
 
Agung mengatakan 11 dari 31 itu ditempatkan khusus atau ditahan. Sebanyak tiga di antaranya ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua Depok.
 
"(Sebanyak) tiga (personel) perwira tinggi (pati)," lanjut dia.
 
Baca: Misteri Boks Kontainer di Rumah Ferdy Sambo, Apa Isinya?

Agung menyebut timsus akan melakukan pengkajian dengan membentuk tim gabungan dengan Divisi Propam Polri. Untuk memproses pelanggaran kode etik yang dilakukan 31 anggota tersebut.
 
"Kalau nanti ada unsur pidananya juga, kita nanti limpahkan lagi kepada Bareskrim Polri," kata jenderal bintang tiga itu.
 
Polri menetapkan empat tersangka dalam kasus penembakan Brigadir J. Keempatnya ialah Irjen Ferdy Sambo, Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu (RE), Bripka Ricky Rizal (RR), dan KM alias Kuat yang merupakan asisten rumah tangga (ART) sekaligus sopir Putri Candrawathi, istri Irjen Sambo.
 
Keempat tersangka dijerat Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana, Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, juncto Pasal 55 dan 56 KUHP. Dengan ancaman hukuman pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama 20 tahun.
 
(SYN)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif