Wadir Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indradi menunjukkan foto HS, tersangka pengancam Presiden Jokowi. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.
Wadir Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indradi menunjukkan foto HS, tersangka pengancam Presiden Jokowi. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.

Pemuda Pengancam Jokowi Terancam Hukuman Mati

Nasional ujaran kebencian kasus makar
Kautsar Widya Prabowo • 13 Mei 2019 13:47
Jakarta: HS, pengancam memenggal Presiden Joko Widodo, terancam hukuman mati. Pasalnya, dia dijerat dengan Pasal 104 KUHP terkait makar.
 
"Diancam dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau penjara paling lama 20 tahun," kata Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum (Wadir Reskrimum) Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indradi saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin, 13 Mei 2019.
 
Saat ini, tersangka masih diperiksa penyidik dari Direktorat Reskrimum. Polisi belum mengetahui apakah ancaman itu dilontarkan spontan atau memang ada niat untuk melukai kepala negara. Namun, polisi berkeyakinan kuat tindakan tersangka memenuhi Pasal 104 KHUP.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita kan menyidik ada aturan yang dilanggar (HS) ada asas legalitas, jadi bunyi pasalnya seperti itu, seseorang yang melakukan perburuan membunuh presiden," tutur dia.
 
Pasal 104 KUHP berbunyi: Makar dengan maksud untuk membunuh, atau merampas kemerdekaan, atau meniadakan kemampuan Presiden atau Wakil Presiden memerintah, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.
 
Kasus HS terkuat setelah video dirinya dalam unjuk rasa di depan Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) viral. Dalam video itu, dia mengancam akan memengal kepala Presiden Joko Widodo.
 
“Siap penggal kepalanya Jokowi. Insyaallah Allahu Akbar. Siap penggal kepalanya Jokowi. Jokowi siap lehernya kita penggal dari Poso, demi Allah,” ucap HS dalam video yang beredar.
 
Baca: Pengancam Jokowi Dikenai Pasal Makar
 
HS sempat kabur setelah kasusnya menjadi buah bibir. Namun, penyidik Polda Metro Jaya menangkapnya di wilayah Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu, 12 Mei 2019, pagi.
 
Sehari-hari HS diketahui tinggal di Palmerah, Jakarta Barat. Polisi pun sudah menggeledah rumahnya untuk mengumpulkan barang bukti terkait kasus ini.
 
Pelaku terancam pasal berlapis. Polisi mengenakan Pasal 104 KUHP tentang tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara dan Pasal 27 ayat 4 juncto Pasal 45 ayat 1 Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif