Wakapolda Metro Jaya Brigjen Wahyu Hadiningrat (ketiga dari kiri) - Medcom.id/Siti Yona Hukmana.
Wakapolda Metro Jaya Brigjen Wahyu Hadiningrat (ketiga dari kiri) - Medcom.id/Siti Yona Hukmana.

Pemalsuan Materai Rugikan Negara Rp30 Miliar

Nasional pemalsuan pemalsuan dokumen
Siti Yona Hukmana • 20 Maret 2019 15:39
Jakarta: Subdit 3 Sumdaling Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya mengungkap tindak pidana pemalsuan materai. Akibat perbuatan itu, negara rugi Rp30 miliar.
 
"Kalau kita hitung dari barang bukti yang sudah kita dapat, kerugian negara sejumlah kurang lebih Rp30 miliar," kata Wakapolda Metro Jaya Brigjen Wahyu Hadiningrat di Polda Metro Jaya, Rabu, 20 Maret 2019.
 
Dalam kasus ini, polisi menangkap sembilan orang. Mereka yakni ASR, DK, SS, ASS, ZUL, RH, SF, DA, dan R. Saat ini, polisi masih mencari pelaku lain.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami bekerja sama dengan Ditjen Pajak, Perum Peruri dan PT Pos. Dalam pengungkapan ini kami membutuhkan waktu empat bulan sejak Oktober," ujar Wahyu.
 
Pengungkapan ini berawal dari laporan Ditjen Pajak ada penjualan materai palsu di situs online pada Jumat, 25 Oktober 2018. Polisi lantas melakukan penyelidikan.
 
Hasil penyelidikan polisi mendapati materai palsu yang dijual dengan harga di bawah harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah senilai Rp6 ribu untuk materai 6.000.
 
Dengan taktik dan teknis kepolisian, kata Wahyu, penyelidik mendapatkan materai yang dijual di situs belanja online itu dengan harga Rp550 ribu per paket (lima lembar masing-masing berisi 50 keping materai). Itu dijual oleh nama yang tercantum di situs belanja online berinisial JF. Polisi langsung berkoordinasi dengan Perum Peruri dan hasilnya dinyatakan palsu.
 
"Jadi, mereka itu menjual materai 6.000 satuan dengan harga Rp2.200," ujar Wahyu.
 
Wahyu merincikan, penangkapan pertama dilakukan pada Februari 2019. Petugas menangkap ASR dan DK di daerah Kota Bekasi. ASR berperan sebagai penyablon dan menjual materai palsu di situs online dengan menggunakan nama inisial JF.
 
(Baca juga:9 Pemalsu Materai Ditangkap)
 
Barang bukti yang disita dari ASR meliputi; 1.500 lembar bahan materai Palsu 6.000 dengan isi 50 keping per lembar, 30 lembar materai palsu 6.000 siap edar dengan isi 50 keping per lembar, empat buah alat sablon, satu botol lem merk 'Fox' dan tiga buah lem merk 'Kenko'. Kemudian, lima kaleng tinta pewarna, satu buah lampu Neon, 100 lembar amplop kecil, 100 lembar amplop besar, 50 lembar amplop tali, satu unit Handphone dengan merk Samsung Galaxy J3 Pro Warna Hitam dan satu buah kartu ATM Platinum Debit BCA.
 
Selanjutnya, ditangan DK diamankan satu buah handphone merk Vivo Y91 warna merah. DK ini berperan sebagai kurir mengirimkan paket materai palsu melalui ekspedisi.
 
Kemudian, dilakukan pengembangan dan menangkap SS di daerah Depok. SS ini berperan sebagai penyedia bahan baku pembuatan matrai palsu dan membantu mencarikan percetakan. Barang bukti yang disita dari SS yakni 100 lembar bahan materai palsu 6.000 dengan isi 25 keping per lembar dan satu unit handphone merk Advan 15 C plus warna hitam.
 
Lalu, polisi kembali menangkap pelaku lain berinisial ASS di daerah Kota Bekasi. Dia berperan membantu mencarikan percetakan dan pembuatan hologram materai palsu. Barang bukti yang diamankan dari ASS yakni uang tunai Rp5,8 juta, satu unit Handphone merk Oppo X9076 warna hitam dan satu kartu ATM BCA.
 
Pengembangan lagi dan tim menangkap ZUL dan RH di daerah Jakarta Timur. Mereka berperan mencetak dasar materai palsu menggunakan mesinofset.
 
Dari tangan ZUL disita satu unit mesin cetak GTO warna hitam dengan merk 'HEIDELBERG' dengan nomor seri : 666261N, satu kaleng tinta warna kuning, satu kaleng tinta warna medium (transparan), satu kaleng tinta warna merah, 10 gulungan plat aluminium bekas pakai (rusak), 13 (tiga belas) gulungan plat aluminium yang masih layak pakai (gambar materai), satu lembar blengket (bahan karet mesin) warna biru; sembilan lembar klise film nomer seri materai, satu lembar klise film dasar biru, satu lembar klise film dasar kuning, satu lembar klise film tulisan materai 6000, dua lembar klise film bagian belakang materai 6000, 20 rim bahan materi 6000 hasil cetak di Toko Mitra Printing, satu unit Hanphone merk Redmi 4A warna grey, dan uang tunai Rp2,4 juta.
 
Kemudian, ditangan RH diamankan saty unit handphone merk Avan Hammer warna putih.
 
Pengembangan terus berlanjut, polisi menangkap SF dan DA di daerah Jakarta Timur. SF berperan sebagai pembuat hologram atau polimaterai palsu menggunakan mesinpoli. Dari tangan SF, polisi menyita satu unit handphone merk samsung galaxy J8, satu unit mesin poli berikut perangkatnya untuk membuat hologram materai, tiga buat plat besi warna hitam untuk mencetak hologram materai dan 20 rim bahan materai 6.000 yang telah diberi hologram.
 
DA berperan sebagai kurir atau penghubung ASR ke ZUL, RH dan SF. Dari tangan DA diamankan satu unit handphone merk Vivo warna hitam.
 
Lalu tim menangkap kembali tersanga R. Dia berperan menjahit atau melubangi materai palsu menggunakan mesinporporasi atau pencacah manual dan mesin pembolong bentuk bintang dan oval. Penyidik menyita satu unit handphone merk samsung, satu kartu ATM BNI, dua mesin pembolong materai berbentuk bintang dan oval, satu buah mesin cacah manual dan 300 lembar dengan isi 50 keping per lembar materai 6.000 siap jual.
 
"Untuk total barang bukti semua yang ada ini kurang lebih senilai Rp10 miliar," beber Wahyu.
 
Akibat perbuatannya itu, kesembilan tersangka dijerat Undang-undang RI Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai. Lalu Pasal 257 KUHP dan Pasal 253 KUHP. Dengan ancaman pidana penjara maksimal tujuh tahun.
 

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif