NEWSTICKER
Sidang Asisten mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, Miftahul Ulum. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Sidang Asisten mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, Miftahul Ulum. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Bendahara KONI Tarik Rp10 Miliar dari Dana Hibah Kemenpora

Nasional Kasus Suap Imam Nahrawi
Fachri Audhia Hafiez • 06 Februari 2020 17:51
Jakarta: Bendahara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Johny E Awuy disebut memerintahkan penarikan Rp10 miliar dari dana hibah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Total dana hibah Kemenpora tersebut sejatinya berjumlah Rp30 miliar.
 
"Pak Johny menyampaikan pada kami bahwa sudah memesan Rp10 miliar pada 8 Juni 2018," kata Kepala Bagian Keuangan KONI Eni saat diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa Miftahul Ulum di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 6 Februari 2020.
 
Pengeluaran uang itu direstui Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy. Kuitansi pengeluaran uang itu disebut ditandatangani Ending dan Johny.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Eni mengaku saat itu Johny tak mengatakan uang bukan untuk dibagikan ke beberapa pihak. Ia hanya mengetahui Hamidy mengantongi Rp3 miliar dan Johny Rp1,9 miliar.
 
Menurut Eni, terdapat pemberian kepada Miftahul sebesar Rp3 miliar dari uang tersebut. Namun, duit itu diambil seorang utusan Ulum yang tidak diketahui namanya. Hal itu diketahuinya selama perkara ini bergulir.
 
"Jadi waktu sore (masih 8 Juni 2018) saya dipanggil bendahara disitu sudah ada utusannya Pak Ulum. Tinggi hitam besar badannya," ungkap Eni.
 
Bendahara KONI Tarik Rp10 Miliar dari Dana Hibah Kemenpora
Bendahara KONI Johny E Awuy. Foto: Susanto/MI
 
Dalam perkara ini, Hamidy dan Johny telah berstatus terpidana. Hamidy divonis dua tahun delapan bulan penjara, sedangkan Johny dihukum satu tahun delapan bulan bui.
 
Miftahul Ulum didakwa menerima suap Rp11,5 miliar. Suap berasal dari Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara Umum KONI Johnny E Awuy.
 
Suap tersebut untuk mempercepat proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah yang diajukan KONI Pusat kepada Kemenpora.
 
Pengajuan dana itu termuat dalam proposal dukungan KONI pusat dalam rangka pengawasan, dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berprestasi tahun kegiatan 2018. Kedua, proposal bantuan dana hibah kepada Kemenpora dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga nasional pada multi event Asian Games dan Asian Para Games 2018.
 
Miftahul didakwa melanggar Pasal 12 huruf a jo Pasal 18 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 
Miftahul turut didakwa menerima gratifikasi Rp8,648 miliar. Uang bersumber dari sejumlah pihak. Miftahul didakwa melanggar Pasal 12B ayat (1) jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.
 

 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif