NEWSTICKER
Direktur Utama PT Fajar Mulia Gemini Mulia Pieko Nyotosetiadi saat pembacaan pleidoi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat, 24 Januari 2020. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo
Direktur Utama PT Fajar Mulia Gemini Mulia Pieko Nyotosetiadi saat pembacaan pleidoi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat, 24 Januari 2020. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo

Pieko Nyotosetiadi Bantah Menyuap Ketua KPPU

Nasional Korupsi di PTPN III
Kautsar Widya Prabowo • 24 Januari 2020 23:25
Jakarta: Direktur Utama PT Fajar Mulia Gemini Mulia Pieko Nyotosetiadi membantah telah menyuap mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Muhammad Syarkawai Rauf. Jaksa penuntut umum (JPU) sebelumnya menduga terdakwa menyuap untuk memuluskan praktik monopoli melalui program long term contract (LTC).
 
Nyoto meluruskan duduk permasalahan saat Direktur Pemasaran PTPN III, I Kadek Kertha Laksana tengah melaku kajian terhadap LTC. Ia selaku pengusaha gula merasa terpanggil untuk memberikan bantuan.
 
"Dengan ikhlas membantu pembiyaan untuk membuat kajian LTC, dengan demikian, bahwa pemberian suap M Syarkawi tidak benar," ujar Pieko dalam sidang pembelaan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jumat, 24 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nyoto menegaskan langkah untuk membuat pergulaan Indonesia lebih baik bukan sebuah pelanggaran. Semata-mata murni bantuan donasi.
 
"Pemberian pembuatan kajian LTC dengan tujuan niatan baik saya, anggap bukan suatu pelanggaran," tegasnya.
 
Sebelumnya, Pieko dinilai terbukti menyuap Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, Dolly Pulungan, sebesar SGD345 ribu atau setara Rp3,55 miliar. Pemberian rasuah itu dilakukan bersama-sama Direktur Pemasaran PT PTPN III, I Kadek Kertha Laksana.
 
Suap itu dilakukan agar Dolly dan Kadek Kertha memberikan long term contract (LTC) atau kontrak jangka panjang kepada Pieko, untuk menggarap proyek distribusi gula kristal putih.
 
LTC merupakan kontrak jangka panjang yang mewajibkan pembeli gula membeli dengan ikatan perjanjian dengan PTPN III dengan harga ditentukan setiap bulan. Hal ini guna mencegah permainan dari pembeli yang hanya membeli gula saat harga murah.
 
Mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Muhammad Syarkawi Rauf disebut turut menerima fulus dalam perkara ini. Syarkawi diyakini menerima uang SGD190.300 atau setara Rp1,9 miliar dalam dua tahap.
 
Pieko diduga memberikan uang tersebut untuk menghindari kesan adanya praktik monopoli perdagangan melalui LTC oleh perusahaannya. Dua perusahaan tersebut ialah PT Fajar Mulia Transindo, dan PT Citra Gemini Mulia.
 
Perbuatan Pieko dinilai terbukti melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf b Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 

(DMR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif