Suasana sidang Krakatau Steel - Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.
Suasana sidang Krakatau Steel - Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.

Saksi Akui Kirim Rp250 Juta ke Makelar Krakatau Steel

Nasional krakatau steel
Candra Yuri Nuralam • 08 Juli 2019 19:29
Jakarta: Kasir atau Bagian Keuangan PT Grand Kartech, Dadi Sodikin mengaku pernah disuruh mencairkan uang berupa cek oleh Presdir PT Grand Kartech, Kenneth Sutardja sebesar Rp 250 juta. Uang itu dikirimkan langsung dikirimkan ke pihak swasta, Alexander Muskitta.
 
"Tanggal 22 Juni 2018 pernah disuruh mengeluarkan cek uang (oleh Kenneth)," kata Dadi saat bersaksi untuk terdakwa Kenneth di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jalan Bungur Besar, Jakarta Pusat, Senin, 8 Juli 2019.
 
Baca juga:Dua Bos Perusahaan Swasta Didakwa Menyuap Petinggi Krakatau Steel

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dadi mengatakan cek itu dicairkan di Bank Central Asia (BCA) di bilangan Pulo Gadung. Usai mencairkan Dadi langsung mengirimkan uang tersebut kepada Alexander Muskitta.
 
"Saat itu saya disuruh Pak Kenneth memerintahkan saya buka cek terus langsung disetorkan ke bank untuk ditarik kemudian ditunaikan (ke Alexander). Habis itu dari pihak bank harus pake nama penyetor (Kenneth)," ujar Dadi.
 
Dadi mengaku tidak tahu menahu pemberian uang itu untuk apa. Dia mengaku diperintah Kenneth untuk mengosongkan tujuan pemberian uang dalam resi pengiriman saat mengisi di teller bank.
 
"Saya tidak tahu. Karena saya kan diperintahkan, untuk apa apa saya enggak tahu, cuma saya disuruh," tutur Dadi.
 
Baca juga:Krakatau Steel Terbuai Tjokro Bersaudara
 
Dadi mengatakan, dia memang sering diperintah Kenneth untuk mentransferkan uang kepada Alexander. Namun, dia mengatakan, pemberian uang hanya dalam waktu tertentu.
 
KPK menetapkan empat tersangka dalam kasus proyek pengadaan kontainer dan boiler di pabrik blast furnace PTKS, Cilegon, Banten. Keempatnya yakni Direktur Teknologi dan Produksi Krakatau Steel, Wisnu Kuncoro; pihak swasta, Alexander Muskitta; Presdir PT Grand Kartech, Kenneth Sutradja; dan Bos Tjokro Group, Kurniawan Eddy Tjokro.
 
Suap terjadi pada 2019, saat Direktorat Teknologi dan Produksi PTKS merencanakan kebutuhan barang dan peralatan, masing-masing bernilai Rp24 miliar dan Rp2,4 miliar. Alexander Muskitta diduga menawarkan beberapa rekanan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut kepada Wisnu Kuncoro dan disetujui.
 
Alexander Muskitta menyepakati komitmen fee dengan rekanan yang disetujui, yakni PT Grand Kartech dan Tjokro Group senilai 10 persen dari nilai kontrak. Alexander Muskitta diduga mewakili dan mengatasnamakan Wisnu Koncoro sebagai direktur teknologi dan produksi PTKS.
 
Alexander Muskitta meminta Rp50 juta kepada Kenneth Sutardja dari PTGK dan Rp100 juta kepada Kurniawan Eddy Tjokro dari GT. Pada 20 Maret 2019, Alexander Muskitta menerima cek Rp50 juta dari Kurniawan Eddy Tjokro yang kemudian disetorkan ke rekening.
 
Alexander Muskitta juga menerima uang US$4 ribu atau setara Rp56,64 juta dan Rp45 juta di sebuah kedai kopi di Jakarta Selatan. Uang tersebut kemudian disetorkan ke rekening Alexander Muskitta.
 
Wisnu Kuncoro dan Alexander Muskitta sebagai penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Kenneth Sutardja dam Kurniawan Eddy Tjokro selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 

(BOW)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif