Sidang pemeriksaan saksi dengan terdakwa Mantan Direktur Utama Pertamina Karen Galaila Agustiawan. - Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Sidang pemeriksaan saksi dengan terdakwa Mantan Direktur Utama Pertamina Karen Galaila Agustiawan. - Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Saksi Sebut Akuisisi Blok BMG oleh Pertamina Tak Bikin Rugi

Nasional Kasus hukum Karen Galaila
Fachri Audhia Hafiez • 14 Maret 2019 13:40
Jakarta: Mantan Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) R Gunung Sardjono Hadi menyebut Participating Interest (PI) atas lapangan atau Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tak merugikan Pertamina. Itu dinilai sebagai risiko pekerjaan.
 
Hal itu disampaikan Gunung saat bersaksi dalam sidang kelima perkara dugaan merugikan negara yang menjerat Karen Galaila Agustiawan, saat menjabat sebagai Direktur Hulu PT Pertamina periode 2008-2009 dan Direktur Utama PT Pertamina periode 2009-2014.
 
"Apakah itu dikatakan rugi, saya kira tidak. Karena ini sesuatu yang sudah kita lakukan evaluasi, suatu risiko dalam pekerjaan," kata Gunung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 14 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ketua Majelis Hakim Emilia Djaja Subagia kemudian menanyakan mengenai pertimbangan Pertamina untuk mengakuisisi perusahaan luar negeri, dalam hal ini Australia. Gunung menjawab, kegiatan itu untuk meningkatkan produksi minyak nasional.
 
"Pertama kita hanya menambah produksi nasional, meksipun kita sudah melakukan kegiatan dalam negeri. Tetapi secara nasional tidak bisa bertambah dari sebagian produksi nasional," ujar Gunung.
 
Baca juga:Pertamina Mengaku Investasi di Australia Rugi USD30 Juta
 
Dia menambahkan, untuk menutup sekat antara permintaan dengan produksi, perseroan harus mencari tambahan cadangan. Opsi yang dipilih harus mencari perusahaan di luar negeri.
 
"Karena intinya bagaimana kita membawa minyak ke luar negeri ke kilang minyak kita. Supaya bisa membantu kilang untuk tidak impor dibuatlah sebuah salah satu spirit objektif daripada akusisi," ujar Gunung.
 
Karen sebelumnya didakwa merugikan senilai Rp568 miliar dari hasil korupsi saat menjabat sebagai direktur hulu PT Pertamina periode 2008-2009 dan direktur utama PT Pertamina periode 2009-2014. Dalam melakukan investasi PT Pertamina terkait participating interest (PI) atas Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia 2009, dia dianggap mengabaikan prosedur investasi di Pertamina.
 
Baca juga:Hakim Tolak Eksepsi Karen Agustiawan
 
Dalam memutuskan investasi PI, Karen menyetujui PI Blok BMG tanpa adanya uji kelayakan serta tanpa adanya analisa risiko. Namun, proses ditindaklanjuti dengan penandatanganan sale purchase agreement (SPA) tanpa adanya persetujuan dari bagian Legal dan Dewan Komisaris PT Pertamina. Dia pun dianggap memperkaya Rock Oil Company (ROC) Australia, yang memiliki Blok BMG Australia.
 
Perbuatan Karen disangkakan dengan pidana dalam Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif