Sidang mantan Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan. - Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.
Sidang mantan Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan. - Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.

Akuisisi Pertamina ke Blok BMG Disebut untuk Meningkatkan Produksi

Nasional Kasus hukum Karen Galaila
Fachri Audhia Hafiez • 02 Mei 2019 12:39
Jakarta: Mantan Direktur Keuangan Pertamina Hulu Energi (PHE) Hemzairil menyebut akuisisi yang dilakukan PT. Pertamina atas Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia 2009 untuk meningkatkan produksi minyak dalam negeri. Ia meyakini tak ada tujuan lain terhadap akuisisi tersebut.
 
"Secara umum kita tahu akusisi itu untuk meningkatkan produksi," kata Zairil saat bersaksi untuk terdakwa mantan Direktur Utama PT Pertamina Karen Galaila Agustiawan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 2 Mei 2019.
 
Ketua Majelis Hakim Emilia Djaja Subagia kembali mencecar Zairil, apakah ada tujuan lain terhadap opsi untuk mengakuisisi Blok BMG. Namun, Zairil mengaku tidak mengetahui sejauh itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Saksi Sebut Akuisisi Blok BMG oleh Pertamina Tak Bikin Rugi
 
Hakim Emilia kemudian menanyakan hal yang sama kepada pensiunan bagian Pendanaan dan Perbendaharaan Pertamina Hulu Energi, Fauzi Hidayat. Ia menyebut akuisisi untuk meningkatkan cadangan minyak dalam negeri, karena dinilai mulai terbatas.
 
Fauzi menilai akuisisi yang dilakukan PT. Pertamina tidak buruk. Sebab, lanjut dia, akuisisi itu bisa menguntungkan atau merugikan. "Saya kira bagus akuisisi ada untung ada yang berhasil. Ya untuk menambah dan memperkuat energi kita, kan energi kita kan terbatas," ujar Fauzi.
 
Dalam perkara ini, Karen Galaila Agustiawan didakwa merugikan senilai Rp568 miliar dari hasil korupsi saat menjabat sebagai direktur hulu PT Pertamina periode 2008-2009 dan direktur utama PT. Pertamina periode 2009-2014. Dalam melakukan investasi PT Pertamina terkait participating interest (PI) atas Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia 2009, dia dianggap mengabaikan prosedur investasi di Pertamina.
 
Dalam memutuskan investasi PI, Karen menyetujui PI Blok BMG tanpa adanya uji kelayakan serta tanpa adanya analisa risiko. Namun, proses ditindaklanjuti dengan penandatanganan sale purchase agreement (SPA) tanpa adanya persetujuan dari bagian Legal dan Dewan Komisaris PT Pertamina. Dia pun dianggap memperkaya Rock Oil Company (ROC) Australia, yang memiliki Blok BMG Australia.
 
Jaksa menilai, perbuatan Karen sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 

(YDH)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif