Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik dalam diskusi Chrosscheck by Medcom.id.
Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik dalam diskusi Chrosscheck by Medcom.id.

Selesaikan Kasus HAM Berat, Jaksa Agung Diminta Segera Bentuk Tim Penyidik

Tri Subarkah • 22 November 2021 12:33
Jakarta: Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Ahmad Taufan Damanik menyambut baik arahan Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin kepada Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus (JAM-Pidsus) untuk mengambil langkah strategis menyelesaikan dugaan kasus HAM berat. Gagasan Burhanuddin itu pernah dilontarkan saat pertemuan Komnas HAM dan Presiden Joko Widodo (Jokowi), jajaran kementerian, serta Kejaksaan Agung.
 
"Sudah pernah muncul ide untuk memulai 2 sampai 3 kasus dari Papua dan Aceh dibawa ke proses judicial. Untuk itu, Jaksa Agung perlu segera membentuk tim penyidik," kata Taufan melalui keterangan tertulis kepada Media Indonesia, Senin, 22 November 2021.
 
Menurut dia, hal teknis terkait yuridis yang selama ini menghambat proses penyelesaian perkara dapat diselesaikan tim penyidik. Dengan begitu, tidak akan lagi terjadi bolak-balik berkas antara Kejagung dan Komnas HAM.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tim penyidik juga dimungkinkan dengan melibatkan Komnas HAM atau tokoh dan pakar hukum ke dalam tim penyidik Jaksa Agung," jelas Taufan.
 
Baca: Ratusan Kuburan Massal Korban Tragedi 1965 Ditemukan Tersebar di Indonesia
 
Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak menyebut Burhanuddin telah memerintahkan JAM-Pidsus untuk mengambil terobosan progresif untuk mengakhiri pola kebuntuan proses penyelesaian penyelidikan kasuspelanggaran HAM berat.
 
"Jaksa Agung mengharapkan dalam waktu dekat Jampidsus dapat mengambil langkah yang tepat dan terukur terkait beberapa dugaan pelanggaran HAM yang berat," ujar Leonard.
 
Ada 13 kasus dugaan pelanggaran HAM berat yang proses penyidikannya belum rampung di Kejagung. Sebanyak sembilan perkara tergolong lama, sebelum adanya UU Nomor 26 Tahun 2000, yakni peristiwa 1965-1966, penembakan misterius (Petrus) 1982-1985, Talangsari Lampung 1989, dan tragedi rumah Geudong Aceh 1990-1999.
 
Kemudian, kasus penculikan dan penghilangan orang secara paksa 1997-1998, serta pembunuhan dukun santet, ninja, dan orang gila 1998-1999. Peristiwa Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II 1998, kerusuhan Mei 1998, peristiwa Simpang Kertas Kraft Aceh 1999.
 
Sementara itu, ada empat kasus baru. Peristiwa Wasior 2001, peristiwa Wamena 2003, peristiwa Jambo Keupok 2003, dan peristiwa Paniai 2014.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif