Anggota Komisi I Muhammad Farhan. Dok. Medcom.id
Anggota Komisi I Muhammad Farhan. Dok. Medcom.id

Densus 88 Hingga BNPT Harus Suuzan Terhadap Ideologi Taliban

Nasional terorisme Taliban Teroris taliban afghanistan radikalisme Crosscheck
Fachri Audhia Hafiez • 05 September 2021 18:11
Jakarta: Anggota Komisi I Muhammad Farhan menilai lembaga negara yang menangani aksi radikalisme perlu berburuk sangka ideologi kelompok Taliban. Kelompok Taliban mengeklaim sudah lebih humanis setelah menduduki Afghanistan.
 
"Sesuai tugasnya Densus 88, Badan Intelijen Negara (BIN), dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu harus selalu suuzan. Kita masyarakat bangsa dan negara merestui suuzan ketiga lembaga tersebut, harus," kata Farhan dalam program Crosscheck #FromHome by Medcom.id bertajuk 'Taliban Bermuka Dua ke Indonesia?', Minggu, 5 September 2021.
 
Farhan mengatakan gerakan radikal dalam bentuk apa pun mesti diwaspadai. Menurut dia, gerakan kelompok tersebut mulai bertransformasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Politikus Partai NasDem ini mengatakan kelompok tersebut mulai merambah digital. Lewat platform itu, paham radikal lebih mudah disebarkan.
 
"Karena data menunjukkan dari BNPT bahwa radikalisasi melalui platform digital jauh efektif dan efisien dalam hitungan bulan seseorang sudah teradikalisasi," ujar Farhan.
 
Baca: Jaringan Teroris JI Disebut Memiliki Penghubung dengan Taliban
 
Sementara itu, pakar timur tengah Universitas Indonesia (UI) Abdul Muta'ali meminta seluruh elemen masyarakat mewaspadai ideologi Taliban jilid II. Dia khawatir sisi humanis itu hanya terlihat dari luarnya.
 
"Kalau jilid pertama jelas, kalau berbeda dengan kami, maka Anda bukan kami, maka Anda bukan dari bagian dari Islam, maka Anda kafir. Kalau kafir maka Anda halal darahnya, itu Taliban jilid pertama," ujar Abdul.
 
Dia mengakui humanisme Taliban jilid II memang terlihat. Namun, seluruh dunia mesti melihat realitas kelompok dari awal hingga akhir.
 
"Karena sungai itu permukaannya lembut, tapi dia menunjukkan kedalaman daripada air tersebut. Berbeda ketika air itu deras, itu enggak dalam," ujar Abdul sambil mengibaratkan.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif