Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono. Medcom.id/Siti Yona Hukmana
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono. Medcom.id/Siti Yona Hukmana

Polisi: Keluarga Menolak Jenazah Pendeta Yeremia Diautopsi

Nasional penembakan papua
Siti Yona Hukmana • 11 November 2020 18:51
Jakarta : Polisi mengaku terkendala mengungkap penyebab kematian Pendeta Yeremia Zanambani. Sebab, keluarga menolak autopsi jenazah Yeremia.
 
"Penyidik, khususnya Polda Papua saat ini sedang bernegoisasi dengan pihak keluarga, karena keluarga menolak untuk dilakukan autopsi," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu, 11 November 2020.
 
Awi mengatakan Tim Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Makassar mengharapkan Pendeta Yeremia diautopsi. Pembedahan akan dilakukan di Mimika, Papua.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Harus diterbangkan ke Mimika. Karena kalau dikerjakan di tempat kejadian perkara (TKP) itu tidak kondusif," ujar jenderal bintang satu itu.
 
Awi menyebut autopsi adalah salah satu cara kepolisian memastikan penyebab kematian Pendeta Yeremia. Tokoh agama itu diduga mengalami penganiayaan sebelum ditembak.
 
"Kita harus buktikan dan ahli harus membuktikan karena tertembak atau apa? Itu yang harus diselesaikan," kata dia.
 
Awi memastikan Polda Papua terus melanjutkan pengusutan. Dia menyebut Wakapolda Papua Brigjen Matius D Fakhiri akan ke Timika pada Kamis, 12 November 2020.
 
"Untuk berbicara langsung dengan Bupati Intan Jaya," ungkap Awi.
 
Baca:Mahfud: Tindak Penembak Pendeta Yeremia Tanpa Pandang Bulu
 
Pendeta Yeremia menjadi korban penembakan di kandang babi, Distrik Hitadipa, Intan Jaya, Papua, Sabtu, 19 September 2020. Pelaku diduga Anggota TNI personel Koramil Alpius Hasim Madi.
 
Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) menemukan luka terbuka maupun luka akibat tindakan lain pada tubuh Yeremia. Salah satunya, luka pada lengan kiri bagian dalam dengan diameter sekitar 5-7 sentimeter (cm) dan panjang sekitar 10 cm.
 
Luka itu diduga berasal dari timah panas yang dilepaskan dalam jarak kurang dari satu meter dari senjata api. Luka tersebut dimungkinkan akibat adanya kekerasan senjata tajam lainnya, karena melihat posisi ujung luka yang simetris.
 
Selain itu,Komnas HAM juga menemukan tindakan lain berupa jejak intravital pada leher. Luka pada leher bagian belakang itu berbentuk bulat. Kemudian, diduga ada pemaksaan korban agar berlutut untuk mempermudah eksekusi.
 
Komnas HAM menduga terdapat kontak fisik langsung antara korban dengan terduga pelaku saat peristiwa terjadi. Berdasarkan keterangan ahli, Yeremia meninggal bukan karena tembakan pada lengan kiri maupun kekerasan lainnya. Korban masih hidup lebih kurang 5-6 jam pascaditemukan istri, Miryam Zoani hingga akhirnya kehabisan darah.
 
(ADN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif