Ilustrasi--Bendera Parpol di wilayah pegunungan Papua saat masa kampanye. Foto: (Medcom.id/Roylinus Ratumakin)
Ilustrasi--Bendera Parpol di wilayah pegunungan Papua saat masa kampanye. Foto: (Medcom.id/Roylinus Ratumakin)

Sistem Noken Dinilai Mendiskriminasi Suara Perempuan

Nasional Pemilu Serentak 2020
Roylinus Ratumakin • 12 Februari 2020 19:14
Jayapura: Penggunaan sistem noken dalam proses Pemilihan Umum (Pemilu) di Papua, dinilai merugikan suara kaum perempuan. Meskipun, sistem noken boleh dilakukan sesuai PKPU Nomor 810 Tahun 2019.
 
“Sistem noken ini sangat mendiskriminasi perempuan. Karena suara yang akan diberikan harus sesuai keinginan kepala suku atau orang yang dipercayakan dalam satu kampung,” kata Sekretaris Kelompok Kerja (Pokja) Perempuan, Majelis Rakyat Papua (MRP), Orpa Nari, Rabu, 12 Februari 2020.
 
Menurut Orpa, banyak calon legislatif (caleg) perempuan yang tidak bisa mendapatkan suara signifikan di daerah pemilihan yang menggunakan sistem noken.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Sistem noken hanya memenangkan caleg laki-laki. Sangat jarang atau tidak ada sama sekali suara dari sistem noken itu untuk perempuan,” ujarnya.
 
Ia berharap pada pelaksanaan pemilu ke depan sistem noken bisa dicarikan solusi agar suara-suara kaum perempuan juga terserap.
 
“Saya secara pribadi berharap MRP sebagai lembaga kultur orang asli Papua bisa membuat satu aturan untuk mengawal suara dari para caleg-caleg perempuan khususnya perempuan Papua,” katanya.
 
Senada, Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Timotius Murib, beranggapan sistem noken tak lagi relevan. Alasannya, merugikan kaum perempuan.
 
“Kami dari lembaga mendukung sistem noken dihapuskan. Memang sistem noken ini kearifan lokal, namun kalau mendiskriminasi perempuan buat apa?” kata Murib.
 

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif