Warga berdialog dengan Kepala Staf Kepresidenan, Jendral TNI (Purn), Moeldoko di Cirebon, Jumat, 8 Oktober 2021. Medcom.id/ Ahmad Rofahan
Warga berdialog dengan Kepala Staf Kepresidenan, Jendral TNI (Purn), Moeldoko di Cirebon, Jumat, 8 Oktober 2021. Medcom.id/ Ahmad Rofahan

Petani Garam Cirebon Keluhkan Kebijakan Impor ke Moeldoko

Ahmad Rofahan • 08 Oktober 2021 16:07
Cirebon: Petani garam di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengaku siap untuk memproduksi garam industri yang sering dijadikan alasan pemerintah untuk melakukan impor.
 
Ismail Marzuki, 34, salah satu petani garam asal Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, mengatakan petani garam di Cirebon bisa menghasilkan garam industri asal dibantu pemerintah.
 
Ia menjelaskan untuk bisa meningkatkan NaCL agar garam bisa masuk dalam garam industri, dibutuhkan sejumlah alat, salah satunya adalah geomembran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bagi petani garam seperti kami, harga geomembran tersebut cukup memberatkan," kata Ismail saat berdialog dengan Kepala Staf Kepresidenan, Jendral TNI (Purn), Moeldoko di Cirebon, Jumat, 8 Oktober 2021.
 
Baca: Ganjar Tak Pusingkan Ocehan Natalius Pigai
 
Petani mengeluhkan seringnya pemerintah mengeluarkan kebijakan impor garam dengan alasan tidak terpenuhinya produksi garam untuk industri.
 
Untuk 1 hektare lahan garam, dibutuhkan geomembran sebanyak 12-15 gulung. Sedangkan untuk 1 gulungnya harganya berkisar Rp5juta.
 
Dalam kesempatan tersebut, ia meminta kepada pemerintah untuk bisa memberikan geomembran kepada para petani garam sebagai modal utama. "Karena kalau beli, kami tidak mampu," ungkap Ismail.
 
Sementara Moeldoko menjelaskan alasan pemerintah pada tahun 2020 lalu melakukan impor garam karena produksi garam lokal belum bisa memenuhi kebutuhan nasional.
 
"Kebutuhannya sebanyak 4 juta ton, 3 juta ton di antaranya untuk kebutuhan industri. Sedangkan produksi garam lokal, hanya bisa mencaapai 1,3 juta ton," ungkap Moeldoko.
 
Untuk bisa bersaing, Moeldoko menyebut terdapat tantangan bagi petani untuk meningkatkan kualitas produksi garam. Terlebih lagi dalam jangka waktu dekat ada dua program pemerintah yaitu merevitalisasi bibir pantai serta melakukan kegiatan impor garam yang nanti tidak diserahkan pada pihak ketiga, melainkan diserahkan langsung pada industri penggunaannya.
 
"Sehingga dapat menghindari penyimpangan yang bocor ke pasar masyarakat," ujarnya.
 
(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif