Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Sindikat Pembuat Madu Palsu Hasilkan 1 Ton per Hari

Nasional polisi pemalsuan Madu
Siti Yona Hukmana • 11 November 2020 13:00
Jakarta: Polisi membongkar pabrik pembuatan madu khas Banten palsu di CV Yatim Berkah Makmur, Kembangan, Jakarta Barat. Madu itu diproduksi dalam jumlah banyak.
 
"Olahan jenis madu tersebut diproduksi dalam sehari satu ton, bisa lebih tergantung pemesanan," kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Banten Kombes Nunung Syaifuddin saat dikonfirmasi, Rabu, 11 November 2020.
 
Nunung mengatakan omzet yang dihasilkan cukup besar. Madu dengan ukuran satu liter dijual kepada pengecer Rp22 ribu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Satu hari dapat menghasilkan satu ton dan dalam sebulan dapat menghasilkan omzet sebesar Rp673.200.000," ungkap Nunung.
 
Baca: Pabrik Madu Banten Palsu Beromzet Rp8 M
 
Sindikat pembuatan madu palsu ini terbongkar pada Rabu, 4 November 2020. Sebanyak tiga tersangka, yakni AS, 24; TM, 35; dan MS, 47, ditangkap.
 
AS, yang mengedarkan madu ke penjual pikulan, itu ditangkap di Lebak, Banten. Sementara itu, TM selaku produsen dan MS pemilik CV Yatim Berkah Makmur ditangkap di kawasan Kembangan, Jakarta Barat.
 
Modus yang mereka lakukan ialah mengolah cairan zat glukosa, fruktosa, dan molases atau tetes tebu yang dicampur menjadi satu. Tiga jenis cairan itu dapat membuat seolah-olah seperti madu asli dari Banten. Meski sama sekali tidak mengandung madu.
 
Madu palsu tersebut dipasarkan ke berbagai wilayah di Banten maupun Jakarta. Pemasarannya ada yang langsung maupun online. Madu palsu dikemas menggunakan botol dan dijual ke masyarakat dari Rp150-Rp200 ribu.
 
Ketiga tersangka telah ditahan. MS dijerat Pasal 140 jo Pasal 86 ayat (2), Pasal 142 jo pasal 91 ayat (1) UU RI Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dengan ancaman hukuman dua tahun penjara atau denda Rp4 miliar.
 
MS juga dikenakan Pasal 62 ayat (1) jo Pasal 8 ayat (1) huruf f, dengan pidana penjara maksimal lima tahun atau denda paling banyak Rp2 miliar. Sedangkan, TM dan AS dijerat Pasal 198 jo Pasal 108 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dengan pidana denda maksimal Rp100 juta.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif