ilustrasi/Medcom.id
ilustrasi/Medcom.id

Dapat Ancaman dan Teror, Istri Korban Penyekapan PT Meratus Line Berlindung ke LPSK

Amaluddin • 17 Agustus 2022 20:07
Surabaya: Dugaan kasus penyekapan karyawan dengan tersangka Dirut PT Meratus Line (PT ML), berinisial SR berbuntut panjang. Sebab, korban penyekapan berinisial ES sedang meringkuk di penjara karena dilaporkan melakukan penggelapan.
 
Alhasil, langkah perusahaan yang memenjarakan ES ini, membuat MM, sang istri sekaligus pelapor kasus penyekapan, ketakutan. Ia pun mengajukan permohonan pada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) agar mendapatkan perlindungan dari lembaga negara tersebut.
 
Salah satu kuasa hukum MM, Fuad Abdullah, mengatakan langkah tersebut dilakukan agar bisa mendapat perlindungan. MM telah mengajukan permohonan perlindungan pada LPSK pada 10 Agustus 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ibu MM, istri dari pak ES memang telah mengajukan permohonan perlindungan pada LPSK. Karena takut ada diskriminasi,” kata Fuad, dikonfirmasi, Rabu, 17 Agustus 2022.
 
Ia menyatakan ada beberapa alasan mengapa MM mengajukan perlindungan pada LPSK. Di antaranya adalah sejak melakukan pelaporan secara pidana terhadap Dirut PT Meratus Line, MM mengaku sering mendapatkan intimidasi dan teror dari orang-orang yang tidak dikenal.
 
Baca: LPSK Dorong KPK Cek CCTV Buktikan Dugaan Suap Irjen Sambo
 
Teror tersebut cukup mengintimidasi ia dan keluarganya lantaran mereka kerap menyinggahi rumah maupun kos-kosan yang dimilikinya. Kondisi tersebut kerap kali membuatnya menjadi tidak nyaman dan serba ketakutan.
 
“Dari keterangan ibu MM, ada orang-orang yang datang ke rumahnya, berteriak-teriak di depan rumah bahkan ada juga yang masuk dan memfoto-foto. Bahkan ada yang mengaku berasal dari PT Meratus Line dan mendatangi pengacaranya waktu itu, menekan agar laporannya ke polisi dicabut. Jika tidak mereka (PT Meratus) akan memenjarakan ibu MM,” ujarnya.
 
Akibat teror tersebut, ia mengaku kerap berpindah-pindah tempat untuk menghindari orang-orang yang mengintimidasinya. Dari satu rumah kontrakan menuju ke rumah kontrakan lainnya.
 
Ia menambahkan ancaman tersebut tidak main-main. Sebab, sang suami yang awalnya menjadi korban penyekapan oleh perusahaan tempatnya bekerja, kini harus meringkuk di Polda Jatim karena dilaporkan oleh PT Meratus Line dengan laporan melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan, serta pencucian uang sesuai dengan laporan polisi nomor LP/B/75.01/II/2022/SPKT/POLDA JAWA TIMUR, tertanggal 9 Februari 2022.
 
“Jadi, dua hari setelah ibu MM ini melaporkan Dirut perusahaan, PT Meratus Line lalu melaporkan suaminya ke Polda Jatim dengan pidana penipuan, penggelapan, dan pencucian uang. Yang bersangkutan bahkan sudah dijebloskan ke penjara lebih dulu,” ungkap dia.
 
Sayangnya, PT Meratus Line saat dihubungi melalui kuasa hukumnya Tis’at Afriyandi belum juga merespons Aliaa tak dapat dikonfirmasi, baik dihubungi melalui ponsel maupun via Whatsapp  tidak merespons. Namun, dalam rilis sebelumnya, PT Meratus Line melalui Donny Wibisono, Head Of Legal PT Meratus Line, membantah adanya penyekapan.
 
Ia menjelaskan perusahaannya tidak melakukan penyekapan terhadap karyawannya yang berinisial ES. Namun, ia menyebut jika sang karyawan justru yang meminta perlindungan pada pihaknya selama 4 hari, mulai tanggal 4 sampai 8 Februari lalu.
 
"ES berada di Kantor PT Meratus Line di Jalan Tanjung Perak selama 4-8 Februari 2022 dalam rangka mendapatkan perlindungan dari manajemen PT Meratus Line," ungkapnya.
 
Ia menambahkan kasus ini bermula saat Januari 2022 terjadi pencurian atau penggelapan bahan bakar minyak (BBM) untuk kapal-kapalnya. Saat penyelidikan perusahaan, diketahui sejumlah karyawan dimana salah satunya ada ES diduga terlibat dalam perkara tersebut. Pada 24 Januari 2022, ES mengajukan permohonan perlindungan kepada manajemen PT Meratus Line dengan menandatangani sendiri surat jaminan perlindungan.
 
(NUR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif