Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, M Fikser, mengklarifikasi tudingan penelantaran pasien. (Foto: Istimewa)
Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, M Fikser, mengklarifikasi tudingan penelantaran pasien. (Foto: Istimewa)

Pemkot Surabaya Bantah Menelantarkan Pasien

Nasional Virus Korona
Syaikhul Hadi • 19 Mei 2020 06:04
Surabaya: Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, membantah tudingan penelantaran pasien terindikasi covid di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU dr Soetomo, Surabaya.
 
Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, M Fikser, mengatakan, siap membuka data command center (CC) 112 Pemkot Surabaya, untuk membantah tudingan itu.
 
“Kita bantah pernyataan bahwa pemkot mengabaikan 35 pasien covid-19," ujarnya, Senin, 18 Mei 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Fikser mengungkapkan, kejadian tersebut berawal pada Sabtu pagi, 16 Mei 2020. Saat itu, IGD RSU dr Soetomo sempat tidak dapat menerima pasien.
 
Penyebabnya, ada 35 pasien covid-19 yang belum mendapatkan kamar. Pengumuman ini pun ditulis dalam sebuah kertas yang ditempelkan di pintu masuk IGD, kemudian viral di media sosial.
 
"Sayangnya ada pihak yang memfitnah TGC-CC 112 (Tim Gerak Cepat Command Center) karena dianggap menelantarkan ke 35 pasien tersebut," sambung dia.
 
Baca juga: Khofifah Prihatin Pemkot Surabaya Diduga Telantarkan Pasien Covid-19
 
Menurut dia, pada hari tersebut, ada 180 laporan yang diterima pihaknya, sebanyak 13 dari 35 kasus itu adalah korban kecelakaan. Namun hanya lima dari mereka yang diantar ke RSU dr Soetomo, lantaran lokasinya berada dekat dengan rumah sakit sehingga dibawa untuk ditangani.
 
“Ini hasil data dari aplikasi (sistem) berdasarkan data yang diterima oleh TGC," jelasnya.
 
Untuk meluruskan tuduhan itu, Fikser menunjukkan beberapa lembar kertas berupa tanda terima dan SOP sebagai bukti bahwa tidak ada penelantaran atau meninggalkan pasien begitu saja.
 
“Dari lima orang itu, tiga warga Surabaya dan dua warga non-Surabaya,” ungkapnya.
 
Dia menegaskan orang atau korban yang diantar TGC-CC tidak semuanya pasien covid-19. Apalagi jika belum melalui proses rapid test maupun swab.Ia menyayangkan ada pihak-pihak yang menuding TGC-CC menelantarkan pasien yang merupakan rujukan dari rumah sakit lain.
 
“Ini bukan rujukan. Ini kejadian (kecelakaan) di jalan raya lalu dibawa ke IGD untuk mendapatkan pertolongan. Kalau bilang ada rujukan di sana buktikan dari mana. Apalagi bicara kalau itu (pasien) covid-19, padahal untuk menyatakan hal itu harus melalui rapid test dan swab terlebih dahulu,” tegasnya.
 
Baca juga:Tak Ada Id Berjemaah di Tangerang Selatan
 
Sementara itu, Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, Eddy Christijanto, menjelaskan, mekanisme command center 112 ini merupakan panggilan darurat 24 jam. Ketika ada pengaduan atau permohonan bantuan kedaruratan akan diterima.
 
”Ketika pasien mengalami sesak, pingsan dan nafasnya sulit, TGC akan turun dengan APD lengkap. Kalau kecelakaan, biasanya TGC mengenakan masker saja. Kami juga berusaha untuk menghubungi keluarga (korban),” kata Eddy.
 
Dia menyayangkan tudingan yang dilontarkan kepada TGC-CC 112 telag menelantarkan pasien di IGD RSU dr Soetomo. Padahal, bantuan yang diberikan merupakan kewajiban.
 
"Sudah kita antar ke rumah sakit kalau mereka perlu ke rumah sakit. Tapi itu masih dituduh menelantarkan?" pungkasnya.
 

(MEL)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif