Sejumlah warga berebut gunungan saat prosesi Grebeg Syawal 1440 H di Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/hp/aa)
Sejumlah warga berebut gunungan saat prosesi Grebeg Syawal 1440 H di Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/hp/aa)

Tradisi Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta Digelar Tanpa Perebutan Gunungan

Nasional tradisi tradisi ramadan keraton yogyakarta Idulfitri 1443 Lebaran 2022
Media Indonesia • 04 Mei 2022 16:24
Yogyakarta: Pada Hari Raya Idulfitri, Keraton Yogyakarta memiliki tradisi Grebeg Syawal dan Ngabekten yang biasa digelar usai Lebaran. Namun, karena masih dalam masa pandemi, tradisi Grebeg Syawal dilakukan tanpa ada berebut gunungan.
 
Sekitar 2.700 rengginang dibagikan di tiga tempat, yaitu Keraton dan Masjid Gede Kauman, Pura Pakualaman, dan Komplek Kepatihan. Mantu Dalem (Menantu Sri Sultan HB X), KPH Purbodiningrat mengatakan, meski kasus covid-19 relatif landai, prosesi tetap dilaksanakan terbatas.
 
"Meski jumlah kasus covid-19 DIY relatif melandai, namun kami memilih untuk tetap menggelar pembagian ubarampe Gunungan Syawal secara terbatas," kata dia di Yogyakarta, Rabu, 4 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia pun menjelaskan, prosesi Grebeg Syawal menyimbolkan sedekah Raja Keraton Yogyakarta kepada kerabat maupun rakyatnya. Ia juga menjelaskan, dulu sebetulnya gunungan dalam acara Grebeg tidak diperebutkan, tapi diserahkan ke kerabat dan abdi dalem.
 
Baca: Benarkah Tradisi Sungkeman Lebaran Berasal dari Keraton Surakarta? Ini Penjelasannya
 
Namun, seiring perkembangannya, rakyat malah berebut ubarampe yang ada di gunungan. Paniradya Pati Kaistimewan, Aris Eko Nugroho menambahkan, pembagian ubarampe gunungan adalah bagian dari keistimewaan Yogyakarta.
 
"Pada hari ini, pembagian pareden pada ASN di Kepatihan, harapannya bisa berlangsung terus menerus karena ini perlu kita pelihara dan kembangkan. Jangan sampai anak muda lupa sejarah, ini bagian dari warna keistimewaan," kata dia.
 
Ngabekten KPH Purbodiningrat juga menjelaskan, pada momen Idulfitri kali ini, Keraton Yogyakarta kembali melaksanakan prosesi ngabekten (sungkeman) di Keraton Yogyakarta secara terbatas. Ngabekten akan digelar dalam dua tahap yakni Ngabekten kakung (putra) dan Ngabekten putri selama dua hari.
 
Ngabekten ini juga akan diikuti bupati/wali kota dan para wakilnya di wilayah DIY. Untuk Ngabekten kakung digelar pada Selasa, 3 Mei setelah pembagian ubarampe gunungan hingga sore hari. Sedangkan ngabekten putri akan dilaksanakan Rabu dari pagi hingga siang hari.
 
"Pelaksanan Ngabekten dilakukan sangat terbatas dengan masih menjaga jarak satu sama lain dan wajib mengenakan alat pelindung diri," jelas Purbo.
 
Dalam kondisi biasa, tata cara Ngabekten yang dilakukan di Keraton dilakukan dengan ngaras jengku (mencium lutut Ngarsa Dalem) sebagai bentuk tanda bakti dan penghormatan. Terkecuali bagi kerabat Dalem yang berusia lebih tua dari Ngarsa Dalem, termasuk KGPAA Pakualam X, sungkem pangabekten dilakukan dengan Sembah Karna, atau mengangkat kedua telapak tangan segaris lurus dengan daun telinga.
 
Akan tetapi, berkaitan dengan situasi dan kondisi pandemi, prosesi Ngabekten kali ini dilakukan dengan lampah dodok dan menghaturkan sembah kepada Sri Sultan HB X dari jarak satu meter
 
(WHS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif