Kapolda Papua Irjen Pol. Paulus Waterpauw saat membuka data kekerasan yang dilakukan oleh KKB di Kabupaten Intan Jaya sepanjang tahun 2020. Foto: Medcom.id/Roylinus Ratumakin.
Kapolda Papua Irjen Pol. Paulus Waterpauw saat membuka data kekerasan yang dilakukan oleh KKB di Kabupaten Intan Jaya sepanjang tahun 2020. Foto: Medcom.id/Roylinus Ratumakin.

Kapolda Papua Sesalkan Penjualan Senjata Api ke KKB

Nasional senjata api kelompok sipil bersenjata kelompok bersenjata di papua
Antara • 03 November 2020 19:16
Jayapura: Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw menyesalkan tindakan oknum polisi Bripka MJH, yang diduga melakukan penjalan senjata api ke kelompok kriminal bersenjata (KKB).
 
"Saya pribadi sangat menyesalkan karena senjata itulah yang nantinya digunakan KKB untuk membunuh warga sipil dan aparat keamanan termasuk rekan-rekannya," kata Waterpauw, Selasa, 3 Oktober 2020.
 
Menurut dia, dari hasil pemeriksaan terhadap Bripka MJH terungkap yang bersangkutan sudah tujuh kali membawa senjata api yang diserahkan ke seseorang berinisial DC dengan upah mulai dari Rp10 juta hingga Rp30 juta per pucuk tergantung jenis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Senjata api yang dibawanya dari Jakarta itu merupakan pesanan DC yang menjadi anggota Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin) di Nabire, untuk dijual ke KKB melalui seseorang berinisial SK yang merupakan mantan anggota DPRD di Intan Jaya. Keberadaan SK pun belum diketahui hingga kini.
 
Baca juga: Uji Coba Semi Pedestrian Malioboro Munculkan Kemacetan
 
Selain melibatkan MJH yang merupakan anggota satuan Brimob, kasus penjualan senjata juga melibatkan anggota Perbakin lainnya yang juga mantan anggota TNI AD yakni FHS.
 
"Ketiganya sudah ditahan di Mapolda Papua. Kami berharap warga mau membantu memberikan informasi bila mengetahui adanya transaksi jual beli senjata api," ungkapnya.
 
Waterpauw menambahkan pengungkapan kasus bermula ketika Bripka MJH ditangkap di Bandara Nabire lantaran membawa dua pucuk senjata api jenis M16 dan M4 dari Jakarta. Kendati senjata tersebut dilengkapi dokumen, polisi curiga lantaran setibanya di Nabire, senjata api itu akan diserahkan kepada DC.
 
"Mudah-mudahan dengan terungkapnya kasus tersebut, secara perlahan akan membongkar jaringan jual beli senjata api yang harganya mencapai Rp300 juta hingga Rp350 juta per pucuk untuk senjata laras panjang," jelas dia.
 
(MEL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif