Kapolres Tana Toraja AKBP Arief Satriyo. (Foto: MTVN/Lukman Diah Sari).
Kapolres Tana Toraja AKBP Arief Satriyo. (Foto: MTVN/Lukman Diah Sari).

Toleransi Antarumat Beragama Telah Mendarah Daging di Toraja

Lukman Diah Sari • 22 Desember 2016 08:55
medcom.id, Tana Toraja: Tana Toraja dikenal sebagai lokasi tujuan wisata budaya. Selain itu, di Tana Toraja pun sangat terkenal dengan tingkat toleransi antarumat beragama yang tinggi.
 
Kapolres Tana Toraja AKBP Arief Satrio menyebut, dengan toleransi antarumat yang sudah mendarah daging membuat Tana Toraja sudah melakukan pencegahan dan tangkal radikalisme dan terorisme sejak dahulu.
 
Arief menuturkan, dalam kehidupan masyarakat Tana Toraja, hidup satu rumah dengan keyakinan yang berbeda adalah hal biasa. Sehingga, setiap masing-masing pemegang keyakinan pun tak saling mempersalahkan, tapi justru berdampingan dan saling mengingatkan.

"Dengan ini juga tidak mudah paham radikalisme untuk masuk, cegah tangkal sudah mendarah daging di Toraja. Bukan sekarang ini. Tapi sudah hidup bersama-sama masyarakat Toraja sejak dulu, sejak mengenal agama, berjalan beriringan," beber Arief saat diskusi Pencegahan Terhadap Paham Kontra Radikalisme atau Terorisme di Mapolres Tana Toraja, Jalan Bhayangkara Malangke, Bombongan, Makale, Sulawesi Selatan, Kamis (22/12/2016).
 
Tana Toraja didiami oleh kurang lebih 600 ribu jiwa penduduk yang dibagi dua kabupaten yakni Kabupaten Toraja Utara dan Tana Toraja. Pemeluk agama pun mayoritas Nasrani. Namun, tak ada gesekan yang menyebabkan intoleransi bahkan memunculkan bibit radikalisme hingga terorisme.
 
"Dalam satu rumah ada Kristen, Katolik, Hindu, Islam, Budha dan mereka berdampingan tanpa mempersalahkan. Itu bisa memberi imun, daya kebal terkait intoleransi. Bagaimana saya berpikir tidak toleran terhadap muslim sedangkan adik kakak orang tua saya muslim, bagaimana saya membenci orang ke gereja, sementara ibu saya Kristen dan sebagainya," jelasnya.
 
(Baca: Silaturahmi Cara Sederhana Tana Toraja Jaga Toleransi)
 
Penduduk Tana Toraja sejak awal sudah sangat menjaga adat dan budaya. Termasuk dengan saling menghargai dan tenggang rasa antar pemeluk agama. Tentu, kata Arief, itu menjadi tugas bersama pemerintah dan aparat untuk bisa mempertahakan kebudayaan tersebut dan memastikan hidup berdampingan antar pemeluk agama terus berlangsung.
 
"Bila pemerintah atau aparat membiarkan potensi perpecahan berkembang, menghilangkan potensi itu. Hal parah bisa terjadi. Kekayaan yang kita miliki wajib kita jaga. Jangan sampai lengah," ujarnya.
 
Dengan menjaga warisan kekayaan budaya tersebut, yakni hidup saling berdampingan antar pemeluk agama. Maka, diyakini hal yang memunculkan intoleransi hingga mencegah radikalisme bahkan terorisme bisa dicegah.
 
Meskipun begitu, dia tak menampik tetap ada riak-riak yang sempat menyenggol kehidupan beragaman di Tana Toraja. Namun, kata Arief, tidak sampai terjadi hal yang mengkhawatirkan. Karena masyarakat Tana Toraja tahu dan mengerti harus menjaga sikap toleransi yang sudah menjadi jati diri Tana Toraja.
 
"Kita memiliki modal awal, kekayaan turun menurun mengalir dalam diri kita, kita sama dan satu, keyakinan hanya hubungan dengan Tuhan, tapi tidak sama. Itu bukan alasan untuk saling membenci dan melakukan tindakan anarkis," bebernya.
 
(Baca: Sekolah Berperan Mencegah Bibit Radikalisme)
 
Meskipun telah terpupuk sejak awal rasa tolenrasi di Tana Toraja untuk mencegah radikalisme dan terorisme. Pihaknya pun terus menanamkan wawasan kebhinekaan dan Kemudian, menanamkan wawasan kebangsaan dan kebhinekaan dari Kabupaten hingga desa.
 
"Sejak awal sudah hidup berdampingan dengan berbagai suku, agama, ras, dan golongan. Sehingga naif bila ingin menghilangkan atau memunculkan rasa bahwa agama lain tidak boleh untuk tinggal," jelasnya.
 
Justru, kata Arief, terbalik bila ada pihak yang menentukan tidak pantas tinggal di Indonesia hanya karena mayoritas. Tapi, kata dia, yang mencoba menerapkan intoleransi dengan melarang kelompok-kelompok untuk tinggal di Indonesia karena minoritas, adalah yang tidak berhak tinggal di Indonesia.
 
"Bukan hak siapa pun yang boleh menentukan tinggal di Indonesia. Tapi mereka yang begitu yang tidak boleh tinggal di Indonesia. Kita terus melakukan penyuluhan untuk menanamkan wawasan bangsa dan kebhinekaan," jelasnya.
 
Tak hanya itu, untuk makin mengeratkan setiap ada peristiwa besar di Ibu Kota yang menyinggung agama masyarakat Tana Toraja bersama pemerintah dan aparat merapatkan barisan. Tujuannya, agar semua elemen pemeluk agama di Tana Toraja tak terpengaruh aksi yang terjadi di pusat pemerintahan.
 
"Kita berkomitmen menjaga ketenangan, kenyamanan ibadah," pungkas dia
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(HUS)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>