Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tana Toraja Herman Tahir. (Foto: MTVN/Lukman Diah Sari).
Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tana Toraja Herman Tahir. (Foto: MTVN/Lukman Diah Sari).

Silaturahmi Cara Sederhana Tana Toraja Jaga Toleransi

Lukman Diah Sari • 22 Desember 2016 06:59
medcom.id, Tana Toraja: Sikap toleransi antarumat beragama di Tana Toraja, Sulawesi Selatan nyatanya telah dibangun sejak masih usia dini. Dengan begitu rasa kedekatan, kekerabatan, hingga saling menghargai meski berbeda-beda bisa tercipta. Suasana damai tanpa konflik akibat perbedaan agama pun tak dirasa di wilayah yang mayoritas nasrani ini.
 
Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tana Toraja Herman Tahir mengatakan, untuk menjaga toleransi dan mencegah radikalisme serta terorisme sangatlah sederhana.
 
"(Yakni) silaturahmi dan saling menghargai," singkat dia di Polres Tana Toraja, Jalan Bhayangkara Malangke, Bombongan, Makale, Sulawesi Selatan, Kamis (22/12/2016).

Dia menuturkan, kehidupan umat beragama masyarakat di Tana Toraja sudah terbangun sejak anak-anak. Seperti saat peryaan hari agama, yakni Idul Fitri, anak usia empat sampai 12 tahun, mereka bersama-sama ke rumah-rumah dan mengucapkan selamat Idul Fitri.
 
"Itu sudah terbangun dari kecil. Begitupun kalau Natal, yang muslim bersama-sama dengan teman Kristiani. Jadi sudah terbangun dari kecil, mulai TK, SD, SMP, dan pertemuan berbagai event hingga kedukaan bersama-sama," bebernya.
 
Dia menceritakan, bila yang meninggal muslim, maka kristiani pun turut takziah (berkunjung kepada keluarga yang meninggal dunia). Bahkan yang ikut mengusung keranda, umat kristiani ikut mengantar dari rumah sampai pekuburan.
 
"Itu terpelihara terus menerus," ucapnya.
 
Herman, yang merupakan seorang muslim dan juga kepala sekolah yang mayoritas diisi oleh siswa nasrani menceritakan, banyak kegiatan toleransi di sekolahnya tersebut dengan konsep Kebhinekaan dan kebangsaan.
 
"Seperti saat mau salat Zuhur, itu dikawal dengan teman-teman yang kristiani. Itu ditungguin. Baru-baru ini menjelang Natal, yang boleh saya maksud adalah seremonialnya. Tapi ketika ibadah, tidak. Mereka sudah paham, saya tidak boleh menyalakan lilin," jelasnya.
 
Tak hanya itu, Herman pun lebih memilih menyekolahkan anak perempuannya di Sekolah Dasar yang mayoritas nasrani. Dia mengatakan, dari 600 siswa, hanya anaknya yang berjilbab.
 
"Itu berjilbab atas keinginan sendiri. Saya ingin terbangun sejak kecil, bahwa di tengah-tengah kita ada agama lain dan untuk tidak malu menunjukan jati dirinya sebagai muslim," tandasnya.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(HUS)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>