Tangkapan layar instagram
Tangkapan layar instagram

Kasus Pengeroyokan Bocah SD oleh Kakak Kelasnya di Malang Berawal dari Pemalakan

Daviq Umar Al Faruq • 24 November 2022 15:57
Malang: MW, 8, bocah kelas 2 SD asal Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjadi korban perundungan dan pengeroyokan oleh sejumlah kakak kelasnya. Kasus perundungan ini bermula dari pemalakan uang saku milik korban.
 
Orang tua MW, Edi Subandi, menceritakan, anaknya diketahui sering dipalak atau dimintai uang oleh kakak kelasnya tersebut.
 
"Jadi sangu (uang saku) sekolah anak saya itu Rp6 ribu per hari. Yang Rp5 ribu diminta (dipalak). Jadi dia cuma (pegang) Rp1 ribu. Dia nggak pernah cerita. Pengakuannya dia ya baru kemarin itu," katanya, Kamis, 24 November 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Edi menerangkan, sejak kelas 1 hingga kelas 2 SD, anaknya selalu memberikan uang sebesar Rp5 ribu saat diminta oleh kakak kelasnya. Sebab jika tidak diberi, maka MW bakal dianiaya oleh mereka.
 
"Kalau enggak dikasih, versi pengakuan anak saya, itu pasti ada sedikit kekerasan. Dipukul, kadang dikeplak, dijejek (diinjak). Kakak kelasnya itu yang paling banyak kelas 6 SD, gengnya anak kelas 6 SD," ujarnya.
 
Baca: Bocah Korban Perundungan di Malang Diseret Hingga Ditendang Kepalanya

Edi mengaku, sepeda milik anaknya pun sempat dirusak oleh kakak kelasnya saat tak diberi uang Rp5 ribu. Aksi perundungan ini diketahui tidak hanya dialami oleh MW saja, tetapi juga para siswa yang lain.
 
"Sebelum anak saya itu sudah banyak korban. Tapi diselesaikan di sekolah saja bikin pernyataan akhirnya nyari korban lain-lain. Yang paling parah anak saya ini. Jadi enggak satu-dua anak, banyak," bebernya.
 
Korban MW saat ini tengah dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Gondanglegi. Sebelumnya, bocah delapan tahun itu mengalami beberapa luka usai dikeroyok oleh kakak kelasnya.
 
"Lukanya enggak ada, hanya memar. Cuma di rontgen ada di dada, sama kepalanya ini benjol, kalau dipegang sakit yang belakang. Sekarang sudah agak baikan, sudah bisa makan," terangnya.
 
Sementara itu, kasus perundungan ini telah dilaporkan ke polisi oleh keluarga korban, kemarin Rabu 23 November 2022. Polres Malang saat ini tengah menyelidiki lebih lanjut terkait kasus perundungan tersebut.
 
"Laporan polisi sudah diterima, saat ini masih dalam proses penyelidikan untuk mengetahui fakta-fakta yang ada. Selanjutnya akan diproses sesuai aturan perundangan-undangan yang berlaku," kata Kasi Humas Polres Malang, Iptu Ahmad Taufik.
 
Taufik menerangkan, berdasarkan keterangan korban, kejadian perundungan tersebut dilakukan oleh tujuh teman sekolah korban yang merupakan kakak kelasnya sebanyak dua kali. Pertama di daerah Bendungan Sengguruh, Kepanjen, pada 11 November 2022 dan di kolam renang Desa Jenggolo, Kepanjen, pada 12 November 2022.
 
"Korban mengaku mengalami perundungan. Sempat ada pemukulan dan ditendang oleh teman-temannya," bebernya.
 
Aksi perundungan ini sempat membuat korban mengalami kejang-kejang hingga tidak sadarkan diri atua koma dan harus mendapatkan perawatan di ICU RSI, pada Kamis, 17 November 2022. Korban baru sadar keesokan harinya pada Jumat, 18 November 2022.
 
Saat sadar, korban bercerita kepada orang tuanya bahwa selama ini ia dirundung dan dianiaya kakak kelasnya. Ia mengaku pernah diseret tujuh orang temannya, kemudian dipukul dan ditendang di daerah Bendungan Sengguruh pada Jumat, 11 November 2022. 
 
Setelah melakukan perundungan, korban kemudian ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Kejadian pun berlanjut keesokan harinya, Sabtu 12 November 2022. 
 
Saar itu, korban dijemput teman-temannya untuk diajak bermain di kolam renang Desa Jenggolo, Kepanjen. Namun pada saat di lokasi, kaki korban ditarik ramai-ramai hingga kepala membentur lantai hingga merasa pusing dan muntah-muntah selama beberapa hari.
 
Penyidik dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) telah mengumpulkan bukti dan melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi dari pihak korban maupun sekolah. Termasuk terhadap terduga pelaku yang melakukan perundungan. Saat ini proses penyelidikan masih terus berjalan sembari menunggu kesembuhan korban.
 
"Penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, termasuk dari terduga pelaku sejumlah tujuh anak. Visum terhadap korban juga sudah dilakukan. Saat ini masih menunggu korban sembuh dan pulih untuk proses selanjutnya," jelasnya.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news medcom.id
 
(WHS)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif