Tangkapan layar video di Instagram.
Tangkapan layar video di Instagram.

Bocah Korban Perundungan di Malang Diseret Hingga Ditendang Kepalanya

Daviq Umar Al Faruq • 24 November 2022 13:52
Malang: MW, 8, bocah asal Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang korban pengeroyokan oleh kakak kelasnya di sekolah. Bocah kelas 2 SD itu disebut mengalami beberapa luka. Korban saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Gondanglegi.
 
Orang tua MW, Edi Subandi, menceritakan, peristiwa pengeroyokan itu terjadi pada Jumat, 11 November 2022 lalu, sepulang sekolah. Saat itu, MW dalam kondisi badan yang kurang fit lantaran baru saja sakit tifus.
 
"Sakit tifus itu enggak masuk sekolah kurang lebih 10 hari. Baru masuk hari Jumat tanggal 11. Itu posisinya agak sakit. Waktu pulang sekolah (ke rumah) itu telat. Telat itu ternyata (dikeroyok) di depan Bendungan Sengguruh," katanya, Kamis, 24 November 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berdasarkan pengakuan MW, ia diseret oleh beberapa kakak kelasnya, dari sekolah menuju ke area sekitar Bendungan Sengguruh yang berada tepat di seberang sekolahnya. Setelah tiba di bendungan, MW kemudian dianiaya oleh kakak kelasnya.
 
Baca: Viral Bocah Kelas 2 SD di Malang Koma usai Dikeroyok Kakak Kelasnya

"Dianiaya di situ, ditendang kepalanya, pakai sepatu, dadanya, sempat sesak, napasnya sulit. Jadi setelah penganiayaan itu ditinggal sendiri di sana," jelasnya.
 
Edi mengaku, MW tidak berani menyeberang sendiri di jalan raya. Bocah kelas 2 SD itu pun hanya bisa menunggu dengan merasakan sakit usai dikeroyok oleh kakak kelasnya yang mayoritas kelas 6 SD tersebut.
 
"Setelah agak lama lalu (MW) ketemu orang (cari) rumput. Ditanya, adik kok belum pulang, dia bilang enggak berani nyeberang. Akhirnya diseberangkan, kembali ke dalam sekolah, ambil sepeda ontelnya, pulang ke rumah," terangnya.
 
Sesampainya di rumah, MW nangis dan melempar sepeda miliknya lantaran merasa jengkel usai dianiaya kakak kelasnya. Namun saat itu, MW masih belum berani bercerita kejadian yang dialaminya kepada orang tuanya.
 
"Ke kita nggak berani bilang. Baru Sabtu (12 November) besoknya itu enggak masuk sekolah, dia itu muntah dari pagi, siang, malam itu muntah nggak berhenti-henti, terus muntah sama kepala pusing," bebernya.
 
Awalnya, Edi mengira anaknya merasa mual lantaran baru saja sakit tifus. Hingga kemudian ia membawa anaknya ke klinik. Setelah meminum obat, kondisi MW sempat membaik.
 
"Satu-dua hari agak mereda mualnya, cuma pusing. Tapi mulai Senin (14 November 2022) sampai tiga hari itu pusingnya enggak ketolong. Dia nangis, waktu itu sore langsung kejang. Kita itu bingung, ini dilihat kayak orang kesurupan tapi bukan, muntah-muntah terus," ungkapnya.
 
Mengetahui kondisi itu, Edi pun langsung membawa anaknya ke rumah sakit. Setelah dirawat di rumah sakit, MW pun mengaku kepada orang tuanya bahwa ia baru saja mengalami perundungan dari kakak kelasnya.
 
Setelah berpikir panjang, pihak keluarga pun memutuskan untuk melapokan peristiwa ini ke polisi. Edi melapor ke Polres Malang kemarin Rabu 23 November 2022.
 
"Kemarin kita putuskan karena sudah fatal seperti ini. Jadi banyak keluarga termasuk kita nggak ada yang terima. Kota laporan ke PPA sama SPKT. Jadi nanti yang tindak lanjuti PPA. Kita disuruh fokus sama anaknya dulu biar sampai sembuh. Masalahnya ini urusannya nyawa pak, kita nggak terima, kita mengikuti aturan hukum yang berlaku," tegasnya.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news medcom.id
 
(WHS)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif